13 Oktober 2009

CONTOH ABSTRAK PENELITIAN KARYA DOSEN
HUBUNGAN STRUKTURAL TINGKAT PENDIDIKAN, PENGALAMAN KERJA DAN USIA GURU DENGAN MOTIVASI KERJA DAN KEEFEKTIFAN KERJA TIM GURU SEKOLAH DASAR
Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Abstract
The research is aimed to investigate the relationship between educational level, working experience, and age with work motivation and team work effectiveness of elementary school teachers, directly or indirectly. The population included teachers at elementary schools in Malang County. The sample, consisted of 438 teachers, was selected using proportional cluster random sampling. The research design was explanatory study in the form of causal modeling. The data, collected using questionnaire and documentation, were analysed by employing descriptive and structural equation modeling technique. The research found that there were structural relationship between teachers educational level, working experience, and age with their work motivation and team work effectiveness to do their professional tasks. .
Keywords: educational level, working experience, age, work motivation, team work effectiveness, elementary school teachers.
Dimuat dalam “Jurnal Pendidikan Dasar” Vol. 10 , No. 1, Maret 2009
FIP UNESA Surabaya, ISSN 1411-285X (Terakreditasi) 
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO (PORTFOLIO BASED LEARNING) PADA MATA KULIAH MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT

Bambang Budi Wiyono
Maisyaroh

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan model pembelajaran efektif berbasis portofolio, dan (2) meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa melalui penerapan model pembelajaran efektif berbasis portofolio pada mata kuliah Manajemen Hubungan Masyarakat. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Setting penelitian dilaksanakan di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner, wawancara, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis data kualitatif. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan tiga kali putaran. Berdasarkan tindakan kelas putaran satu, dua dan tiga, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis portofolio yang dikembangkan dalam penelitian ini, dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa.

Kata kunci: model pembelajaran, berbasis portofolio, motivasi, hasil belajar, siswa

Dimuat dalam Jurnal ”Manajemen Pendidikan,
AP-FIP-UM, Malang, ISSN 0852-1921

Pelaksanaan Pembinaan Kemampuan Profesional Guru
Di SEKOLAH, DITINJAU DARI PENDEKATAN, FREKUENSI TEKNIK, DAN PRINSIP YANG DIGUNAKAN

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Maisyaroh

Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat abstraksi, komitmen, dan kemampuan mengajar guru Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pendekatan, frekuensi teknik, dan prinsip pembinaan yang diterima guru, serta pengaruh frekuensi teknik pembinaan terhadap kemampuan mengajar guru. Penelitian ini dilaksanakan di kota Malang. Sebagai sasaran populasinya adalah guru-guru di sekolah se-kota Malang, yang mencakup guru sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah umum, dan sekolah menengah kejuruan. Sampel diambil sebesar 20 sekolah dan 84 guru, dengan teknik cluster quota random sampling. Ada dua teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik kuesioner dan observasi. Untuk mengolah data hasil penelitian, digunakan tiga teknik analisis data, yaitu teknik analisis deskriptif, analisis korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat abstraksi guru rata-rata cukup, tingkat komitmen dan kemampuan mengajar guru rata-rata baik, pendekatan pembinaan yang banyak digunakan adalah pendekatan kolaboratif dan direktif, frekuensi teknik pembinaan guru termasuk kategori cukup, prinsip pembinaan termasuk kategori baik, dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara frekuensi teknik pembinaan dengan kemampuan mengajar guru.

Kata kunci: pendekatan, teknik, prinsip, pembinaan, kemampuan mengajar, guru.

Dimuat dalam ”Jurnal Ilmu Pendidikan” Jilid 14, Nomor 3, Oktober 2007
UM - Malang, ISSN 0215-9643 (Terakreditasi)

Peningkatan KEAKTIFAN DAN Motivasi Belajar SISWA SEKOLAH DASAR melalui Penerapan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Burhanuddin
Sulton
Ali Imron

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar siswa sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dalam proses pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Setting penelitian di laksanakan di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bandulan II Kota Malang pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Subyek penelitian adalah guru dan seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bandulan II. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif dan analisis deskriptif. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dua kali putaran (cycles). Berdasarkan tindakan kelas pada putaran kesatu dan kedua, menunjukkan bahwa model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenang-kan dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar siswa.

Kata kunci: pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, motivasi belajar, siswa.

Dimuat dalam Jurnal ” Sekolah Dasar” Tahun 16, Nomor 2, November 2007,
KSDP-FIP-UM, Malang, ISSN 0854-8285, (Terakreditasi)

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
KEPALA SEKOLAH DASAR

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Abstrak
Sejalan dengan diberlakukannya sistem pemerintahan otonomi daerah, dikembangkan pula sistem otonomi pengelolaan pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang semula banyak ditentukan oleh pemerintah pusat, selanjutnya banyak dikelola oleh pemerintah daerah, yang implikasinya banyak dilaksanakan oleh sekolah. Sekolah diberikan kewenangan untuk mengelola pendidikan sepenuhnya, sesuai dengan kondisi sekolah melalui pendekatan school based management. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengelolaan sekolah adalah kepemimpinan transformasional kepala sekolah. Empat komponen perilaku kepemimpinan yang perlu dilakukan kepala sekolah adalah memberikan keteladanan dalam melaksanakan tugas, memberikan motivasi yang dilandasi dengan cita-cita yang tinggi, memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi, dan memberikan perhatian kepada anggota secara individual.
Kata kunci: kepemimpinan transformasional, kharismatik, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, perhatian individual, kepala sekolah dasar

Dimuat dalam Jurnal ”Manajemen Pendidikan, AP-FIP-UM, Malang, ISSN 0852-1921

Hubungan Struktural ANTARA Persepsi DAN SIKAP terhadap Program Sertifikasi, Keikutsertaan dalam Kegiatan Pengembangan, DAN Tingkat Profesionalisme Guru dalam Melaksanakan Tugas

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Nurul Ulfatin
Maisyaroh


Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persepsi dan sikap guru program sertifikasi, tingkat keikutsertaan guru dalam kegiatan pengembangan profesional, dan tingkat profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas jabatan. Selain itu, juga menemukan model hubungan struktural antara persepsi guru terhadap program sertifikasi, sikap guru terhadap program sertifikasi, dan keikutsertaan guru dalam kegiatan pengembangan profesional dengan tingkat profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas. Sebagai populasinya adalah guru sekolah dasar negeri di Jawa Timur. Sampel penelitian diambil sebanyak 198 guru sekolah dasar, dengan teknik area cluster proportional random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan structural equation modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan struktural antara persepsi guru terhadap program sertifikasi, sikap guru terhadap program sertifikasi, dan keikutsertaan guru dalam kegiatan pengembangan dengan tingkat profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas.

Kata kunci: sikap, persepsi, kegiatan pengembangan, program sertifikasi,
profesionalisme, guru sekolah dasar
Dimuat dalam
Jurnal ”Manajemen Pendidikan, Volume 22, Nomor 2, September 2008,
AP-FIP-UM, Malang, ISSN 0852-1921

KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN SCHOOL BASED MANAGEMENT
DI SEKOLAH DASAR

Oleh:
Bambang Budi Wiyono

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kepala sekolah dasar dalam mengelola sekolah dengan pendekatan school based management. Sasaran penelitian adalah kepala sekolah dasar negeri di kota Malang. Dari seluruh populasi, diambil sampel sebesar tujuh belas kepala sekolah dasar negeri. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan survey. Dua teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif, yang meliputi distribusi frekuensi, persentase, analisis rerata, dan simpangan baku. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kemampuan kepala sekolah dalam mengelola sekolah dengan pendekatan school based management rata-rata termasuk kategori cukup baik, akan tetapi masih membutuhkan pembinaan. Beberapa komponen yang masih perlu ditingkatkan adalah kemampuan dalam merumuskan sasaran (visi, misi, sasaran dan strategi) sekolah, kemandirian sekolah, pengelolaan kemampuan sumber daya, pencapaian prestasi akademik dan non akademik serta program sekolah., Teknik pembinaan utama yang diperlukan kepala sekolah adalah program pelatihan, pertemuan KKKS atau MKKS, dan penataran.


Kata kunci: kemampuan kepala sekolah, mengelola sekolah, pendekatan school based management, program pembinaan, sekolah dasar.
Dimuat dalam Jurnal ” Wahana Sekolah Dasar”., Tahun 16., Nonor 2, Juli 2008
PGSD UM, Malang, ISSN 0854-8293

MODEL Self-Evaluation Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dasar

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengembangkan model self-evaluation untuk meningkatkan kepemimpinan transformasional kepala sekolah dasar, dan menguji model struktural pengaruh self-evaluation kepemimpinan transformasional terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah, motivasi kerja guru, keefektifan kerja tim guru, dan usaha peningkatan sekolah.
Penelitian ini dilaksanakan di sekolah dasar negeri kabupaten Malang. Desain penelitian menggunakan quasi experiment, rancangan non-equivalent comparative group design dan causal modeling. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi, dengan instrumen tipe behavioral observation scale, numerical rating scale, dan summated rating. Teknik analisis data menggunakan Anova, Manova, dan Structural Equation Modeling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan self-evaluation kepemimpinan transformasional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah, dan tidak berpengaruh langsung terhadap motivasi kerja guru, keefektifan kerja tim guru, dan usaha peningkatan sekolah. Langkah-langkah self-evaluation adalah mengadakan persiapan self-evaluation, menerapkan self-evaluation, mengambil informasi balikan, menganalisis hasil self-evaluation dan informasi balikan, melakukan peningkatan kepemimpinan, dan melaksanakan self-evaluation kembali.
Kata kunci: self-evaluation, kepemimpinan transformasional kepala sekolah, motivasi kerja guru, keefektifan kerja tim guru, usaha peningkatan sekolah.
Dimuat dalam Jurnal ”Manajemen Pendidikan, Volume 23, Nomor 1, Maret 2009,
AP-FIP-UM, Malang, ISSN 0852-1921

Peningkatan Partisipasi dan Motivasi Belajar Mahasiswa
melalui Penerapan Model Pengelolaan Kelas dengan
Pendekatan Proses Kelompok

Oleh:
Bambang Budi Wiyono
Burhanuddin
Sulton

Abstrak
Faktor utama yang sangat menentukan terhadap prestasi belajar mahasiswa adalah tingkat partisipasi dan motivasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar mahasiswa melalui penerapan model pengelolaan kelas dengan pendekatan proses kelompok (group process approach) dalam proses pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Setting penelitian di laksanakan di kelas mata kuliah Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak. Subyek penelitian diambil sebesar 34 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif dan analisis deskriptif. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dua kali putaran. Berdasarkan hasil tindakan kelas putaran satu dan dua menunjukkan bahwa penerapan model pengelolaan kelas dengan pendekatan proses kelompok dalam proses pembelajaran, dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar mahasiswa.

Kata kunci: pengelolaan kelas, pendekatan proses kelompok, partisipasi, motivasi belajar, mahasiswa.


Dimuat dalamJurnal ”Ilmu Pendidikan,
FIP-UM, Malang, ISSN 0852-1921

Abtraksi Judul Penelitian

Eddy Setiadi E

PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN PRASEKOLAH: STUDI KASUS TENTANG PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN UNTUK SISWA TK SALMAN AL-FARISI KOTA BANDUNG

Semakin semaraknya penyelenggaraan pendidikan prasekolah khususnya taman kanak-kanak belakangan ini merupakan suatu fenomena yang mengembirakan. Akan tetapi meningkatnya apresiasi terhadap keberadaan dan urgensi pendidikan prasekolah juga menimbulkan dilema baru, misalnya perbedaan persepsi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat secara keseluruhan dalam memaknai esensi dan misi pendidikan prasekolah. Polemik ini akan berpusat pada orientasi pendidikan prasekolah yaitu pendekatan akademik dan non-akademik. Terjadinya polemik semacam itu dikarenakan tidak adanya kesamaan pemahaman orang tua dan pendidik berkenaan dengan peran pendidikan prasekolah. Oleh karena itu guru berperan agar mampu menanamkan kesadaran kepada orang tua mengenai tugas dan peran pendidikan prasekolah dalam meningkatkan kemampuan anak. Pelaksanaan pendidikan prasekolah (TK) merupakan langkah awal untuk perkembangan kehidupan seseorang. Dikatakan demikian, karena dalam pendidikan prasekolah ditanamkan pola-pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan anak sejak dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak dalam aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap dan perilaku sosial (Supriadi, 1998: 169). Guna mencapai perkembangan itu, pendidikan prasekolah perlu menyiapkan program yang dapat membantu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak dini usia. Program yang dimaksudkan adalah program bimbingan.
Masalah penelitian secara umum dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana Pengembangan Program Bimbingan dalam Sistem Pendidikan Prasekolah?” Adapun tujuannya adalah mengembangkan program bimbingan dalam sistem pendidikan prasekolah. Melalui pengembangan program bimbingan diharapkan guru mampu menerapkan layanan bimbingan dalam proses pembelajaran dengan lebih baik dan guru mampu memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak usia prasekolah. Metode penelitian yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan kuesioner. Subyek penelitian yaitu anak taman Kanak-kanak (TK) dan guru-guru TK Salman Al-Farisi Kota Bandung.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) guru telah memiliki pemahaman terhadap layanan bimbingan di Taman Kanak-kanak. Pengembangan program bimbingan yang dipahami oleh guru mulai dari perencanaan, pengelolaan, pelayanan bimbingan, dan evaluasi; (2) pengelolaan program bimbingan oleh guru dalam kegiatan belajar di TK belum menunjukkan keoptimalan; dan (3) anak dini usia secara umum telah menguasai tugas-tugas perkembangan. Penguasaan tugas-tugas perkembangan anak termasuk ke dalam kategori sedang. Penguasaan tugas-tugas perkembangan anak dini usia secara berurutan meliputi: kemampuan motorik, bahasa, emosi, kognisi, dan penyesuaian sosial.
Rekomendasi ditujukan kepada guru TK yaitu agar melaksanakan layanan bimbingan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan, guru hendaknya tidak memilah-milah satu aspek dengan aspek lainnya. Bagi peneliti selanjutnya yaitu meneliti variabel lainnya yang dianggap mempengaruhi peningkatan kemampuan anak dalam penguasaan tugas-tugas perkembangan, menelaah permasalahan yang sama dengan jumlah sampel yang lebih banyak di lokasi yang lebih luas, instrumen yang dikembangkan pada penelitian selanjutnya hendaknya lebih disempurnakan.
Dudi Gunawan PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN KARIR BAGI SISWA TUNARUNGU DI SLB-B YP3ATB CICENDO BANDUNG

Penelitian ini diangkat dari fenomena lapangan, bahwa sebagian besar kebutuhan yang dirasakan siswa tunarungu tentang karir belum mendapatkan pemenuhan dalam pelaksanaannya dan belum terprogram secara baik, dalam pelaksanannya masih dikaitkan dengan program atau kegiatan mata pelajaran. Sementara itu tuntutan kebutuhan karir yang dirasakan siswa secara nyata masih terabaikan. Guru pembimbing masih mengalami kesukaran dalam merumuskan dan mengembangkan materi pelaksanaan bimbingan yang akan diimplementasikan. Untuk menjawab fenomena tersebut perlu diadakan studi yang terpercaya dengan cara memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana menyusun program bimbingan karir. Penelitian ini berusaha memberikan gambaran pada guru pembimbing tentang bagaimana menyusun program bimbingan karir yang memenuhi kebutuhan siswa tunarungu.
Penelitian tentang pengembangan program bimbingan karir ini dilakukan melalui pendekatan tindakan kemitraan (Collaborative Action Research) yaitu suatu bentuk penelitian untuk meningkatkan layanan bimbingan karir yang sistematis dan mengacu kepada kebutuhan siswa tunarungu di SLB-B YP3ATB Cicendo Bandung. Penelitian ini mengikut sertakan keterlibatan guru kelas, guru keterampilan, pembimbing, dan kepala sekolah untuk merumuskan program bimbingan karir.
Adapun prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut. Kesatu : Assesmen identitas dan kebutuhan siswa tunarungu akan karir dan memperoleh informasi kondisi obyektif, mengkaji kerangka teoretis, dan mengkaji ketentuan formal yang berlaku. Kedua : Merumuskan pengembangan program hipotetik bimbingan karir yang didasarkan pada kajian teoretis dan kondisi objektif hasil penelitian. Berdasarkan temuan penelitian bahwa: 1)belum melaksanakan assesmen untuk melihat identitas siswa dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang menunjang karir siswa, 2)materi bimbingan karir yang diberikan belum mengacu kepada perkembangan karir siswa, 3)kegiatan layanan bimbingan karir belum dilaksanakan secara sistematis dan teoritis dan 4)belum menjalankan evaluasi secara priodik, sistematis dan menyeluruh. Ketiga: Rumusan penelitian ini diuji kelayakannya melalui seminar/diskusi untuk merevisi, masukan-masukan, dan menentukan program akhir bimbingan karir di SLB-B,melibatkan kepala sekolah, guru kelas, guru-guru dan guru pembimbing, Keempat: Implementasi program hasil pengembangan.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa, program bimbingan karir efektif bagi siswa tunarungu SLB-B. Indikator efektivitas ditandai dari, 1) kesadaran, kebutuhan, minat, dapat keluar dari fantasi,2) pandangan yang realistis tentang dunia kerja, berkeinginan mengembangkan diri dalam karir,dan 3) mampu menghubungkan dirinya dengan dunia kerja. Berdasarkan hasil kolaborasi dalam implementasi program bimbingan karir, implikasinya mengindikasikan di SLB-B YP3ATB Bandung, perlu program bimbingan karir yang dirancang secara sistematis dan didasarkan atas kebutuhan karir siswa dan kondisi objektif di sekolah. Otin MartiniPENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN PERILAKU SOSIAL ANAK USIA DINI DI KELOMPOK BERMAIN
(Studi Kasus di Kelompok Bermain Aryandini III Kecamatan Margacinta Bandung)

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan pada anak usia dini di kelompok bermain. Banyak anak pada usia dini menunjukkan perilaku sosial yang belum optimal. Hal ini terjadi karena perlakuan orang tua dalam memperlakukan anak usia dini yang kurang kondusif dan pelaksanaan layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain yang belum terprogram secara sistematis dan terarah.
Tujuan akhir penelitian ini adalah mengembangkan program layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan mengunakan metode studi kasus. Prosedur penelitian melalui lima tahapan, yaitu : 1) pengungkapan data tentang kondisi obyektif lapangan, 2) kajian konseptual tentang perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain, 3) perumusan pengembangan program hipotetik tentang layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain, 4) validasi rasional melalui seminar dan lokakarya (semiloka), 5) rekomendasi rumusan program akhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain belum optimal dalam hal : aspek empati dan membagi, seperti : belum mampu mau menghargai sesama teman dan belum mampu mau berbagi sesama teman. Perlakuan orang tua dalam memperlakukan anak usia dini di kelompok bermain, cenderung orang tua berlangsung dalam perlakuan terlalu melindungi (overprotection) sehingga anak menjadi manja dan berdampak pada perilaku sosial anak yang belum optimal. Pelaksanaan layanan bimbingan belum terprogram secara sistematis dan terarah, bimbingan hanya bersifat kasuistik, karena tenaga pendidik lebih mementingkan pengajaran daripada kegiatan bimbingan.
Bertolak dari hasil penelitian, diajukan rekomendasi kepada Kelompok Bermain Aryandini berupa pengembangan program bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain yang sudah divalidasi melalui seminar dan lokakarya, yang meliputi : rasional, visi, misi, tujuan layanan bimbingan, ruang lingkup bimbingan, metode, waktu dan tempat pelaksanaan bimbingan, komponen program bimbingan, jenis layanan bimbingan, evaluasi bimbingan dan program layanan bimbingan. NurhastutiBIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITA
(Telaah Kualitatif Dalam Upaya Menyusun Program Bimbingan Seks bagi Remaja Tunagrahita di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung)

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya masalah yang dihadapi oleh remaja tunagrahita dalam hal seksual, yaitu mereka belum mengerti saat memasuki usia remaja baik perkembangan fisik maupun perkembangan emosi, suka melakukan masturbasi di depan guru atau teman sekelas, tidak bisa menjaga kebersihan saat menstruasi, mudah tergoda dengan orang asing yang baru dikenal, tidak bisa menjaga kesehatan pribadi, pacaran yang berlebihan (over acting). Fenomena yang terjadi di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung menunjukkan bahwa bimbingan seks belum dilaksanakan secara optimal, sehingga kebutuhan remaja tunagarahita belum terpenuhi. Kondisi ini menggambarkan bahwa bimbingan seks belum mengakomodasi kebutuhan siswa. Kalau tidak tertangani maka akan menggangu tampilan potensi pada remaja tunagrahita.
Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan program bimbingan seks bagi remaja tunagrahita untuk dapat memfasilitasi kebutuhan siswa tunagrahita. Untuk mencapai tujuan tersebut, ditempuh prosedur penelitian sebagai berikut (a) mengindentifikasi kebutuhan siswa, memotret layanan bimbingan seks di sekolah, serta mengumpulkan data tentang faktor pendukung dan penghambat dalam layanan bimbingan seks (b) merumuskan program hipotetik bimbingan seks berdasarkan kajian teoritis dan kondisi objektif di lapangan (c) melakukan validasi program melalui seminar dan lokakarya yang diikuti oleh kepala sekolah, guru dan orang tua (d) merevisi program berdasarkan hasil seminar dan lokakarya untuk merumuskan program hasil validasi bimbingan seks di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bimbingan seks belum mengakomodasi kebutuhan siswa (2) ada sepuluh kebutuhan siswa tunagrahita yaitu perubahan fisik saat memasuki usia remaja, pengetahuan tentang mimpi basah, pengetahuan tentang masturbasi, pengetahuan tentang menstruasi, tata cara pacaran, norma pergaulan pria dan wanita, kesehatan pribadi, tata cara berbicara yang benar, menghindari diri dari pelecehan seksual, pernikahan. (3) faktor pendukung yaitu pandangan positif dari kepala sekolah dan guru kelas. Sedangkan faktor penghambat meliputi iklim sekolah yang tidak kondusif, minimnya fasilitas dan administrasi, pendidikan, kemampuan guru dalam bimbingan masih kurang, karakteristik siswa. (4) rumusan program bimbingan seks meliputi: dasar pemikiran, visi dan misi layanan bimbingan seks, maksud dan tujuan, bidang isi dan ruang lingkup bimbingan. Penelitian tersebut direkomendasikan kepada kepala sekolah, guru kelas, yayasan, dan orang tua. Masnipal M.KARAKTERISTIK GURU PENDIDIKAN SISWA BERBAKAT
(Studi Deskriptif terhadap Pendapat Siswa dan Guru Program Percepatan Belajar pada Jenjang Pendidikan SMA di Bandung)

Penelitian ini diawali dengan adanya kebutuhan mengenai rambu-rambu tentang karakteristik guru pendidikan siswa berbakat, mengingat pemerintah akhir-akhir ini tengah giat melaksanakan uji coba program percepatan belajar (acceleration) dan pengayaan (enrichment) di beberapa daerah di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan siswa berbakat apapun model dan bentuk layanannya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa yang mengikuti program percepatan belajar/akselerasi di SMA 3 dan SMAK I BPK Bandung dan guru yang mengajar di kelas tersebut. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan analisis data menggunakan kriteria kategori yang dibuat secara khusus setelah dilakukan pengolahan data dengan mencari rata-rata (mean).
Hasil penelitian adalah: Pertama, siswa pada program percepatan belajar/akselerasi dan guru yang mengajar di kelas tersebut berpendapat bahwa guru pendidikan siswa berbakat perlu memiliki atau memenuhi sejumlah karakteristik khusus jika mengajar siswa berbakat. Dari sejumlah karakteristik khusus tersebut, menurut siswa terdapat 15 karakteristik secara mutlak dan 6 karakteristik sebaiknya dimiliki guru pendidikan siswa berbakat, sedangkan menurut guru ada 11 karakteristik mutlak dan 10 karakteristik sebaiknya dimiliki. Kedua, terdapat persamaan dan perbedaan antara pendapat siswa dan guru mengenai karakteristik yang mutlak dan sebaiknya dimiliki oleh guru siswa berbakat. Persamaan dalam karakteristik mutlak sebanyak 8 aspek dan karakteristik sebaiknya dimiliki ada 4 aspek, sedangkan perbedaan pada karakteristik mutlak sebanyak 3 aspek dan sebaiknya dimiliki ada 2 aspek. Ketiga, siswa kelas akselerasi berpendapat bahwa sebagian besar guru yang mengajar mereka memiliki 10 dari 21 karakteristik ideal yang ditanyakan kepada mereka dan sisanya hanya dimiliki sebagian kecil guru. Keempat, tidak ada guru kelas akselerasi yang memiliki karakteristik minat terhadap buku lebih tinggi. Kelima, terdapat sejumlah perbedaan antara karakteristik ideal menurut ahli dengan karakteristik guru di lapangan.
Hasil studi ini menyampaikan beberapa rekomendasi kepada pihak terkait untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan siswa berbakat. Rekomendasi tersebut adalah 1) hasil studi ini dapat menjadi salah satu sumber/bahan dalam memperbaiki dan melengkapi pedoman seleksi guru biasa untuk menjadi guru pendidikan siswa berbakat, 2) sebagai bahan untuk menyusun program pelatihan guru pendidikan siswa berbakat dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka, 3) bahan dalam penyusunan kurikulum pendidikan guru pendidikan siswa berbakat, 4) bahan dalam memperbaiki pedoman identifikasi anak berbakat, dan 5) bahan untuk menyusun program konseling bagi pendidikan siswa berbakat. Zulkifli SidiqKINERJA GURU KELAS DALAM LAYANAN BIMBINGAN PADA SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN TUNANETRA
(Studi Kasus dalam Pengembangkan Kompetensi Guru Kelas SDLB di SLB Bagian Tunanetra YPKR Cicalengka Bandung)

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya masalah yang dihadapi guru kelas sebagai dampak dari peran guru sebagai pengajar dan sebagai pembimbing. Peran sebagai pengajar dituntut menangani kurikulum, yaitu seluruh pengalaman belajar siswa yang diperoleh melalui sejumlah bidang studi yang disajikan untuk menunjang perkembangan optimal siswa dan mendampingi siswa untuk menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Peran sebagai pembimbing dituntut menangani layanan bimbingan, dengan mengajak siswa untuk berefleksi atas pengalaman belajar itu, apa yang dapat diketahui tentang diri sendiri dalam hal kemampuan, minat, nilai-nilai kehidupan dan aspirasi di masa depan.
Berdasarkan kenyataan tersebut penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kinerja guru kelas dalam layanan bimbingan, sebagai dasar untuk mengembang kompetensi guru kelas dalam layanan bimbingan di SLB-A YPKR Cicalengka Bandung. Untuk mencapai tujuan tersebut, ditempuh prosedur penelitian sebagai berikut. Pertama, pengungkapan kondisi obyektif kinerja guru kelas dalam layanan bimbingan. Kedua, merumuskan kompetensi guru kelas dalam layanan bimbingan. Ketiga, melakukan judgment kompetensi oleh ahli Bimbingan dan Konseling, ahli Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, dan guru kelas SDLB-A. Keempat, penyempurnaan kompetensi berdasarkan masukan-masukan dari hasil judgment.
Hasil penelitiannya adalah: (1) kemampuan guru kelas dalam konsep-konsep bimbingan dan konseling menunjukkan pemahaman yang memadai, (2) kompetensi guru kelas dalam penyusunan program bimbingan dan konseling belum memenuhi standar normatif, (3) kompetensi guru kelas dalam memahami diri siswa tunanetra telah memenuhi standar normatif, (4) tingkat kompetensi guru kelas dalam jenis-jenis layanan bimbingan yang dilaksanakan belum memenuhi standar normatif, (5) kompetensi guru kelas dalam pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling belum memenuhi standar normatif, (6) adanya hambatan dalam hal: profesi tenaga pembimbing, kurangnya kepedulian siswa terhadap layanan bimbingan, kurang pedulinya orang tua terhadap perkembangan anaknya, dan minimnya fasilitas dan pengadministrasian bimbingan, (7) terumuskannya kompetensi guru kelas dalam layanan bimbingan dan konseling.
Berdasarkan temuan di atas, direkomendasikan kepada: (1) kepala sekolah untuk meningkatkan pengawasan dan tanggung jawab dalam pelaksanaan layanan bimbingan, (2) guru kelas untuk meningkatkan kompetensi di bidang bimbingan melalui jalur pendidikan dalam jabatan, (3) jurusan PLB, hendaknya menambah isi materi perkuliahan bimbingan anak luar biasa. (4) peneliti lebih lanjut, supaya diadakan penelitian dengan cakupan penelitian yang lebih luas sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan bimbingan di SLB-A. Aam KurniaPROGRAM BIMBINGAN UNTUK MENCAPAI TUGAS PERKEMBANGAN DI TAMAN KANAK-KANAK BUMI SILIWANGI UPI, AISYIYAH 10 DAN PEMBINA SADANG SERANG BANDUNG TAHUN AJARAN 2004-2005

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran empirik tentang penyelenggaraan bimbingan di Taman Kanak-kanak dan menyusun program bimbingan untuk mencapai tugas perkembangan anak usia dini, Metoda yang digunakan teknik observasi, wawancara. Disamping itu penulis melakukan pemotretan dan rekaman melalui tape recorder. Data yang terkumpul kemudian dianalisis, dicek kembali kepada subjek penelitian, sehingga dapat diketahui akurasi data yang diperoleh. Berdasarkan hasil penelitian , maka dibuat rekomendasi bagi pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di Taman Kanak-kanak.
Penelitian ini dilaksanakan mulai pertengahan April 2004 sampai Desember 2004 di Taman Kanak-kanak Bumi Siliwangi UPI, Aisyiyah 10 dan Pembina Sadang Serang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama Guru harus meningkatkan kemampuan dalam menerapkan layanan bimbingan dalam kegiatan pembelajaran, Kedua, fasilitas yang ada sudah baik dan lengkap sehingga dapat menunjang aktivitas siswa dalam meningkatkan kemampuannya dan ketiga, secara umum anak-anak TK sudah menguasai tugas -tugas perkembangannya. Penguasaan anak terhadap tugas perkembangannya ditunjukkan pada aspek : (1) fisik, (2) kognitif, (3) bahasa, (4) sosial-emosional, (5) seni, (6) Nilai-nilai agama. dan (7) Moral. Hasil penelitian menemukan bahwa penguasaan anak terhadap tugas-tugas perkembangannya secara umum berpariasi, dimana anak ternyata lebih menguasai aspek sosial – emosional, agama, bahasa, kognitif dan fisik, sedangkan pada aspek moral dan seni anak-anak kurang menguasai tugas perkembangannya. Temuan ini memberikan gambaran betapa pentingnya layanan bimbingan di TK mengedepankan layanan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan tugas-tugas perkembangan pada spek-aspek moral dan seni.
Rekomendasi penelitian ini bagi guru, masih perlu meningkatkan kemampuannya dalam membuat persiapan pembelajaran yang berkaitan dengan layanan bimbingan, berkenaan dengan implikasi pembelajaran perlunya memilih dan menggunakan metoda yang berpariasi, guru hendaknya mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya, perlu diadakan penelitian dengan permasalahan yang sama, dan tidak hanya dalam aspek layanan bimbingan saja, tetapi diharapkan bisa lebih banyak menentukan aspek lainnya yang lebih menunjang pelaksanaan layanan bimbingan, seperti manajemen bimbingan dan teknik bimbingan. Siti Wuryan IndrawatiUPAYA ORANG TUA DAN GURU TK UNTUK MENCEGAH PERKEMBANGAN EMOSI NEGATIF PADA ANAK USIA DINI
(Studi Kasus Dalam Rangka Menyusun Rancangan Program Bimbingan Pada TK. Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia)

Penelitian yang berjudul : “Upaya Orang tua dan Guru TK Untuk Mencegah Perkembangan Emosi Negatif Pada Anak Usia Dini” (Studi Kasus Dalam Rangka Menyusun Rancangan Program Bimbingan Pada TK Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia) ini bertujuan untuk menghasilkan program bimbingan perkembangan emosi anak usia dini yang akan dapat dimanfaatkan orang tua dan guru TK dalam mencegah timbulnya emosi negatif pada anak usia dini.
Adapun masalah penelitian ini adalah masih banyaknya anak usia dini yang masih mengalami emosi negatif, belum bisa bersikap tenang, sangat impulsif, mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian di kelas dan belum mampu mengontrol emosi negatif. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang profil pemahaman orang tua dan guru TK mengenai tahapan, tempo, dan irama perkembangan emosi anak usia dini dan profil layanan bimbingan yang selama ini telah dilaksanakan oleh orang tua dan guru TK dalam memfasilitasi perkembangan emosi anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif dengan pendekatan kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara langsung.
Temuan dari penelitian ini adalah bahwa guru TK Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia memahami tahapan, tempo, dan irama perkembangan emosi yang tercermin dalam cara guru menghadapi anak usia dini yang sedang mengalami emosi negatif. Namun pemahaman orang tua tentang tahapan, tempo, dan irama perkembangan emosi belum bisa dimanfaatkan, terbukti ketika menghadapi anak yang mengalami emosi negatif mereka masih kebingungan belum mampu membantu anak untuk tidak agresif, tidak penakut, tidak pemalu, tidak memaksakan kehendak dan berkonsentrasi dalam belajar. Secara umum layanan bimbingan di TK Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia belum optimal karena belum semua orang tua memahami fungsi dari bimbingan perkembangan emosi, dan masih banyak orang tua yang juga mempunyai permasalahan yang belum terselesaikan, meskipun layanan bimbingan dari guru sudah bagus.
Adapun rekomendasi untuk memperoleh kualitas program adalah mengadakan seminar dan uji coba program yang disusun, untuk memperoleh bukti tentang relevansi program dengan permasalahan yang dihadapi guru dan orang tua anak usia dini di TK Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia. Jasa SembiringPengembangan Kreativitas Siswa melalui Seni Rupa
(Studi deskriptif analitis untuk penyusunan rencana pembelajaran siswa SLTP berdasarkan Bimbingan dan Konseling di Kota Bandung)

Pemilihan masalah pengembangan kreativitas siswa SLTP sebagai fokus penelitian didasarkan pada pertimbangan mengenai latarbelakang studi kreativitas dalam pendidikan dan bimbingan konseling.
Pendidikan formal kurang memperhatikan pengembangan kreativitas bahkan cenderung membunuh bibit-bibit kreativitas siswa. Karena itu kenyataan menunjukkan kreativitas siswa di sekolah sangat rendah. Kondisi seperti ini sungguh sangat memprihatinkan dan tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya-upaya keluar dari permasalahan tersebut. Penelitian ini adalah salah satu upaya untuk keluar dari permasalah tersebut. Manusia mempunyai potensi dengan kadar yang berbeda, potensi-potensi kreatif ini perlu dikembangkan agar dapat bermanfaat. Potensi itu akan dapat berkembang bila menerapkan bimbingan dan konseling, yaitu agar siswa merasa aman dan nyaman melakukan aktivitas berpikir dan berkreasi.
Temuan di lapangan menunjukkan guru jarang menjelaskan tujuan akhir dari suatu pembelajaran. Karena siswa tidakmengetahui manfaat dari sebuah tugas siswa kurang termotivasi untuk mengerjakan sebuah tugas akibatnya presatasi siswa rendah. ` Guru tidak menerapkan bimbingan dan konseling di dalam proses belajar mengajar sehingga siswa merasakan suasana belajar kurang nyaman. Kurangnya wawasan guru tentang kreativitas menyebabkan guru kurang memperhatikan pengembangan kreativitas serta tidak tahu harus berbuat apa dalam pengembangan kreativitas siswa.
Wawasan guru tentang bimbingan dan konseling sangat kurang. Hal itu tampak dari kata-kata guru, sikap guru terhadap anak yang berkesulitan belajar, guru tidak menggunakan kata-kata pujian, sanjungan kepada siswa berprestasi atau kata-kata yang dapat membuat siswa menemukan dirinya, sehingga rasa percaya dirinya muncul Berdasarkan temuan di atas disarankan seharusnya siswa yang berprestasi mendapat pujian, siswa berkesulitan mendapat bantuan, siswa yang malas mendapat perhatian, karya siswa yang kreatif dipamerkan. Kerena itu disarankan. Pertama, guru harus belajar tentang konsep kreativitas, karakteristik siswa kreatif dan pembelajaran kreatif; Kedua, guru harus belajar konsep dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling; Ketiga, mengubah rencana pelajaran dengan menyertakan bimbingan dan konseling di dalam rencana pembelajaran. Dengan penerapan ketiga hal di atas pengembangan kreativitas siswa akan berlangsung efektif.
Melalui upaya ini diharapkan kreativitas siswa lebih meningkat lagi sehingga mampu menjawab berbagai tantangan di masa depan, yang pada akhirnya dapat menjamin kelangsungan hidup pembangunan bangsa dan negaranya.
Asep SuryanaPersepsi Siswa dan Penilaian Pengawas Tentang Kinerja Profesional Guru Pembimbing

Kinerja profesional guru pembimbing sebagai gambaran unjuk kerja merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem upaya kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Saat ini ada anggapan bahwa kinerja profesional guru pembimbing diduga masih cukup menyedihkan atau belum bisa memberi arti dalam upaya memperbaiki bahkan meningkatkan prestasi siswa. Dugaan itu ternyata tidak seluruhnya benar, hal itu dapat dibuktikan oleh peneliti bahwa kinerja profesional guru pembimbing ternyata menggembirakan.
Persepsi siswa yang dalam hal ini sebagai pengguna jasa langsung dalam kaitannya dengan upaya layanan bimbingan dan konseling di sekolah menyatakan bahwa kinerja professional guru pembimbing baik. Begitu juga penilaian yang diberikan oleh Pengawas mengenai kinerja profesional guru pembimbing rata-rata dinilai baik. Kondisi ini tentu dapat menunjukkan dan membuktikan kepada masyarakat sekaligus menepis anggapan bahwa kinerja profesional guru pembimbing cenderung tidak baik.
Hasil penelitian ini tentu bukan hanya sekedar untuk menepis anggapan yang selama ini muncul namun lebih dari itu dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam upaya pengembangan profesionalisme guru pembimbing. Tantangan yang akan dihadapi menuntut guru pembimbing perlu memiliki kemampuan yang prima, siap dan handal dalam menangani permasalahan terutama yang dirasakan dan dialami oleh para siswa di sekolah.
Lebih khusus bagi guru pembimbing bahwa upaya mengembangkan diri dianggap syarat utama yang harus diperhatikan. Inisiatif untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan kearah yang lebih maju perlu dilakukan oleh guru pembimbing sebaiknya tidak harus menunggu dari atas, atau ajakan dari luar, tetapi harus berangkat dari kemauan keras diri sendiri.
Muhdar MahmudLayanan Bimbingan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Wilayah Kota Bandung

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan di lapangan yang menunjukkan adanya beberapa Sekolah Dasar yang menghasilkan alumni Anak Berkebutuhan Khusus dengan prestasi yang tidak kalah dengan prestasi teman-teman sebayanya, seperti dua siswa lulusan SD Gegerkalong Girang, seorang siswa lulusan SD BPI, dan dua orang siswa lulusan SD Al-Ghifari. Dari fenomena tersebut muncul permasalahan bagaimana guru memberikan layanan bimbingan dalam memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar, sehingga potensi mereka dapat berkembang secara optimal? Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan program bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus di SD yang sangat bermanfaat bagi peningkatan efektivitas pelaksanaan bimbingan bagi mereka di sekolah. Pengetahuan tentang pelaksanaan bimbingan yang dilakukan oleh guru dan dengan ditemukannya kendala-kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan bimbingan bagi ABK diharapkan akan memudahkan para perencana dalam mencari alternatif terbaik untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan bimbingan di sekolah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melalui observasi, wawancara, angket, dan studi dokumentasi sebagai teknik pengumpulan datanya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan pelayanan bimbingan kepada ABK, guru tidak membuat satuan layanan bimbingan secara khusus dengan pertimbangan tidak ada pedoman BP khusus untuk ABK, tidak ada contoh satuan layanan bimbingan bagi ABK, berhubungan dengan status kepegawaian, adanya kecenderungan tentang kekeliruan persepsi konsep bimbingan. Program yang dibuat guru meliputi: satuan pelajaran, program catur wulan/semester, program tahunan, program perbaikan, pengayaan, kehadiran, catatan kejadian, kartu komunikasi, kartu pribadi, dan analisis hasil evaluasi pengajaran. Dalam memahami diri ABK, guru mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi tentang kondisi siswa, latar belakang keluarga, dan kondisi sekolah yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan angket dan dilakukan sebelum membuat satuan pelajaran dengan tujuan untuk menemukan kekuatan, kelemahan, kesulitan dan kebutuhan siswa. Mengenai pemberian bantuan kepada ABK yang mengalami kesulitan belajar bergantung pada tingkat kesukaran yang dihadapi siswa. Jika kesulitandianggap berat, maka sebelum memberikan bantuan guru mengalokasikan kesulitan, mencari faktor penyebab dan alternatif pemecahannya. Bagi kesulitan tahap ringan bantuan diberikan secara spontan dan terpadu dengan KBM biasa. Guru mengevaluasi keberhasilan bantuan, menganalisis dan menindaklanjuti hasil penilaian berupa pengayaan dan pengajaran remedial. Terdapat enam faktor penghambat dalam melaksanakan bimbingan, yaitu: faktor tenaga bimbingan, siswa, orang tua siswa, personil sekolah, sarana dan prasarana. Dengan demikian, pelaksanaan layanan bimbingan bagi ABK di SD belum optimal. Oleh karena itu, direkomendasikan kepada: guru-guru untuk berusaha mengembangkan kemampuannya melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang bimbingan; Kepala Sekolah untuk melakukan pengembangan personil, sarana, dan prasarana bagi pelaksanaan bimbingan; bagi lembaga yang berwenang agar segera mengadakan kegiatan in-service training mengenai bimbingan dan mengoptimalkan mata kuliah BP di LPTK.
Aldjon Nixon Dapa Efektivitas Layanan Bimbingan Belajar Melalui Pembelajaran Kooperatif Bagi Anak Berkesulitan Belajar Berhitung
(Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Jatiasih III, Kota Bekasi, Jawa Barat)

Penelitian ini berangkat dari temuan terhadap keberadaan anak berkesulitan belajar berhitung (ABBB) di sekolah normal. Kesulitan yang mereka alami dapat dilihat dari beberapa Aspek, yaitu akademik, nilai prestasi mereka berada di bawah rata-rata kelas, untuk mata pelajaran Matematika. Masalah sosial, sering terkucil dan disepelekan dalam pergaulan teman sekelas. Dan masalah emosional yakni minder, rendah diri, dan impulsiv, memperparah kondisi mereka di kelas. Juga teramati bahwa iklim pembelajaran dalam kelas tidak kondusif bagi mereka untuk belajar dengan efektif, layanan bimbingan belajar pun agak jarang dilakukan oleh guru yaitu hanya program pengayaan di saat menjelang waktu ujian .
Realitas keadaan ini memotivasi peneliti untuk mencoba menerapkan layanan bimbingan belajar melalui pembelajaran kooperatif, yang direkomendasikan oleh beberapa ahli, mampu mengatasi berbagai masalah yang di alami anak berksesulitan belajar berhitung. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) model siklus Kemmis & Mc. Taggart, dengan tiga tahapan, yaitu perencanaan, tindakan dan observasi, serta refleksi. Subyek penelitian terdiri dari empat anak dari 45 anak , di kelas VI b SD Jatiasih III, Kota Bekasi. Teknik pengumpulan data adalah observasi, analisis dokumen, dan wawancara, serta analisis data dilakukan kategorisasi data, validasi, dan interpretasi.
Dari tiga siklus yang telah dilaksanakan, berisi layanan bimbingan pembelajaran kooperatif dengan mata pelajaran Matematika, diperoleh hasil, prestasi akademik ABBB dengan nilai terendah 7,5 dan nilai tertinggi 10, dengan rata-rata 8 untuk setiap siklus dan prosentase kenaikan nilai pre tes dan post tesnya adalah 35% – 50 %, nilai pre tes yang hanya 4 – 4,5, pada nilai rata-rata kelas 7.7 , mampu naik dengan nilai 7,5 – 9, pada nilai rata-rata kelas 9,4. Bahkan anak yang tidak berkesulitan belajar pun menaikan prosentase nilainya pada kisaran 5% – 15 %. Masalah sosial juga secara progresif dapat teratasi. Dimana anak mulai percaya diri untuk berteman dan bergaul, tanpa perasaan minder dan rendah diri. Masalah emosional juga mampu teratasi, dimana rasa takut, cemas, dan agresifnya, secara pasti mulai berubah menjadi berani, percaya diri, dan terkendali perilakunya. Maka dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa bimbingan belajar melalui pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk mengatasi masalah ABBB, dan dapat disusunlah sebuah model layanan bimbingan belajar melalui pembelajaran kooperatif bagi ABBB.
Lia Cybercounceling
(Kajian Mengenai Konseling Melalui Internet)

Penelitian yang berjudul ” Cybercounseling “, ini bertitik tolak dari perkembangan global yang semakin pesat khususnya dibidang teknologi komunikasi memberikan pengaruh terhadap pelayanan dan bimbingan konseling. Konseling tidak hanya melalui proses tatap muka tetapi lebih dari itu dengan menggunakan media komunikasi seperti telepon, internet, e-mail, chat rooms dan video.
Cybercounseling sebagai sesuatu yang baru yang dapat mengikuti kecepatan dan keefektifan komunikasi lewat internet dan merupakan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan klien. Demikian pun klien, dapat memperoleh informasi dalam ruang lingkup yang luas.
Perkembangan ini tentunya menuntut kesiapan dan adaptasi para konselor dalam penguasaan teknologi di dalam melaksanakan bimbingan konseling. Konselor dituntut memiliki kompetensi agar mampu menerima inovasi baru tanpa melupakan pemberian layanan yang tradisional. Hal ini membawa profesi konseling dalam posisi layanan yang terbuka, interdipenden dan interconnected. Diversifikasi kebutuhan konseling akan semakin lebar, target populasi layanan semakin luas dan bervariasi, tujuan konseling semakin berorientasi pada perkembangan dalam konteks atau sistem untuk jangka panjang, strategi intervensi akan banyak bernuansa teknologi dan lingkup layanan menjadi semakin luas dan beragam. Kecenderungan ini menuntut konseling untuk mengembangkan diversifikasi respon, program dan strategi intervensi, ragam layanan profesional dan spektrum konselor yang harus dipersiapkan. Berdasarkan analisis peneliti diperoleh informasi mengenai terminologi yang lazim digunakan pada komunitas cybercounseling, jenis layanan cybercounseling, etika pada cybercounseling, isu-isu yang muncul pada cybercounseling.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan hal yang positif mengenai cybercounseling sehingga dapat digunakan sebagai alternatif dalam layanan bimbingan konseling.
Lilis M Karakteristik Perawatan Dan Pembinaan Klien Yang Mengalami Penyimpangan Perilaku Sosial

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya fenomena penyimpangan perilaku sosial yang meresahkan di kalangan masyarakat. Peneliti tertarik untuk memfokuskan pada ciri khas kegiatan upaya perawatan dan pembinaan melalui metoda dzikrullah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun metoda penelitian yaitu studi kasus, karena penelitian ini menggali secara mendalam tentang upaya perawatan dan pembinaan individu yang mengalami penyimpangan perilaku sosial melalui metoda dzikrullah.
Data yang terkumpul tentang karakteristik perawatan dan pembinaan melalui metoda dzikrullah adalah sebagai berikut : Jenis penyimpangan perilaku yang dapat disembuhkan, faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku individu, tujuan, program, prosedur perawatan dan pembinaan, kualifikasi yang dimiliki oleh para pembina dalam bidang kehidupan religius, keterampilan dan tampilan perilaku, kurun waktu penyelesaian/evaluasi (penyelesaian perawatan dan pembinaan), dan kegiatan-kegiatan tindak lanjut.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, karena peneliti ingin lebih leluasa untuk mengamati tingkah laku sebagaimana adanya. Wawancara digunakan untuk mengungkap wawasan atau pemikiran-pemikiran dalam memecahkan masalah. Adapun teknik dokumentasi digunakan untuk mengungkap data kongkrit tentang klien yang datang dan yang telah menjalani perawatan/pembinaan secara kuantitatif.
Hasil dari pelaksanaan upaya perawatan dan pembinaan dibuktikan secara empiris dengan adanya perubahan perilaku klien, yang mengalami penyimpangan, ke arah yang lebih baik (akhlak karimah), yaitu antara lain adanya dua puluh satu orang mantan klien yang ditugaskan untuk membantu kiyai dan memiliki kualifikasi tampilan perilaku mahmudah dalam melaksanakan ketaatan terhadap Allah, menjauhi larangan-Nya, menjaga kesucian jasmani dan rohani, menjadi suri teladan, menguasai teori dan tehnik (keterampilan) membantu. Tolok ukur dinyatakan selesai menjalani perawatan dan pembinaan, dapat dilihat dari kondisi kesehatan fisik dan mental, serta dapat merealisasikan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi praktisi bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu sebagai berikut : memperkaya wawasan keilmuan dalam bidang bimbingan dan konseling yang bernuansa islami untuk dijadikan alternatif pilihan dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Bagi orang tua/keluarga, meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak dengan harapan dapat mengurangi kecenderungan munculnya penyimpangan perilaku sosial. Adapun untuk sekolah dan masyarakat, dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi anak didik dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi sesuai dengan yang dimilikinya, serta meningkatkan perhatian di lingkungannya yang akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan dan penyesuaian perilaku.
Untuk penelitian lebih lanjut yaitu sebagai berikut. Mengkaji literatur tentang konsep-konsep bimbingan konseling dalam Al-quran dan Al-hadist. Pelaksanaan penelitian ini melibatkan para pakar profesional yang berkaitan dengan perawatan dan pembinaan.
Fauziah Model Konseling untuk Meningkatkan Religiusitas dan Modernitas Remaja Berdasarkan Parenting Style

Penelitian ini mengangkat suatu model konseling untuk meningkatkan Religiusitas dan Modernitas Remaja Berdasarkan Parenting Style. Beragamnya permasalahan yang timbul dan terjadi pada kaum remaja, diasumsikan berawal dari lingkungan keluarga. Ketidakharmonisan antara orang tua (ayah-ibu) dan anggota keluarga, memberikan dampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan remaja, secara fisik maupun psikologis, terutama pada pemahaman mereka terhadap nilai-nilai prinsip seperti religiusitas dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang terus berkembang cepat sebagai suatu nilai yang dinamakan sebagai nilai kemoderenan (modernitas).
Tujuan utama dalam penelitian ini adalah; menghasilkan suatu model konseling untuk meningkatkan religiusitas dan nilai-nilai modernitas yang dimiliki remaja atau siswa SMU KORPRI Bandung berdasarkan parenting style.
Penelitian ini menggunakan metode derskriptif. Untuk mengukur tingkat religiusitas dan nilai-nilai modernitas remaja (siswa) didasarkan pengukuran melalui angket. Pengukuran parenting style orang tua siswa dilakukan dengan menggunakan Assessing parenting style Jhon Gottman & Joan Declaire, (1997) melalui empat bentuk gaya parenting, yaitu; (a) Dismissing Parent (perlakuan apatis) (b) Dissapproving Parent (perlakuan yang penuh tekanan), (c) Laissez-Faire parent (perlakuan yang penuh dengan kebebasan), (d) Emotion Coach Parent (perlakuan yang berbentuk komprehensif dan intimacy). Temuan penelitian ini adalah; bahwa model konseling berdasarkan Parenting Style yang dikonstruk dengan indikator empati, komunikasi, bimbingan dan problem solving dengan gaya “Memberikan kebebasan” dan “Memberikan Perhatian” pada umumnya dapat meningkatkan religiusitas dan modernitas remaja. Kontribusi Parenting Style ayah terhadap tingkat religiusitas dan modernitas adalah 18,8%, namun secara terpisah, kontribusi Parenting style ayah turut menentukan tingkat modernitas sebesar 18,3% sedangkan kontribusinya pada tingkat religiusitas hanya 6,4%, artinya; tidak begitu menentukan. Kontribusi parenting style ibu terhadap tingkat religiusitas sebesar 44,4% dan terhadap modernitas remaja adalah sebesar 35,9%. Secara bersama-sama konstribusi parenting style ibu terhadap tingkat religiusitas dan modernitas adalah sebesar 55,9%, berarti sangat signifikan. Pengukuran selanjutnya dilakukan secara bersama-sama (parenting style ayah-ibu) menunjukkan tingkat religiusitas dan modernitas remaja (siswa SMU KORPRI Bandung) kontribusinya sebesar 18,9% artinya cukup berarti atau signifikan dengan kontribusi untuk tingkat religiusitas sebesar 9,4% dan terhadap tingkat modernitas 17%.
Kepada pihak sekolah (konselor) dan orang tua murid direkomendasikan antara lain agar dapat mendudukkan persoalan parenting style dalam praktek bimbingan konseling keluarga pada orang tua yang berkonsultasi persoalan penanaman nilai-nilai religiusitas dan modernitas anak remaja. Selanjutnya perlu dicanangkan program kerjasama antara sekolah dengan orang tua murid guna memberikan layanan informasi tentang pentingnya pemahaman orang tua mengenai Parenting Style.
Nana Jumhana Hubungan Pola Interaksi Dosen Pembimbing dalam Proses Bimbingan Akademik dengan Kemandirian dan Komitmen Belajar Mahasiswa Tunanetra
(Studi Deskriptif-Analitik ke Arah Pengembangan Program Bimbingan Akademik bagi Mahasiswa Tunanetra)

Keberadaan mahasiswa tunanetra di Universitas Pendidikan Indonesia, masih sedikit memperoleh sentuhan psikologis yang bisa mengembangkan kemandirian dan komitmen sebagai salah satu aspek kepribadian penting dalam setiap kegiatan belajarnya. Realitas empirik tersebut menempatkan dosen pembimbing mahasiswa tunanetra untuk memiliki strategi layanan bimbingan dalam bentuk pola interaksi yang lebih mengakomodasi kondisi ketunanetraan (visual handicapped), mampu mengembangkan perilaku mandiri dan komitmen, serta perilaku adaptif dengan sistem pendidikan inklusif.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum dari penerapan pola intraksi dosen pembimbing mahasiswa tunanetra, tujuan layanan bimbingan dosen pembimbing dengan mahasiswa tunanetra, kemandirian dan komitmen belajar mahasiswa tunanetra, motivasi belajar mahasiswa tunanetra dan hubungan pola interaksi dosen pembimbing akademik dengan kemandirian dan komitmen belajar mahasiswa tunanetra di Universitas Pendidikan Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dalam bentuk skala bertingkat untuk mengukur variabel penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik Weighted Means Scored dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis uji hipotesis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola interaksi dosen pembimbing dengan kemandirian dan komitmen belajar mahasiswa tunanetra, terbukti dengan hasil perhitungan korelasi 0,6684 menempati derajat perhitungan 0,61 0,80 = high correlation.
Data hasil analisis deskriptif dengan menggunakan teknik Weighted Means Scored diperoleh gambaran dengan rata-rata hitung untuk penerapan pola interaksi dosen pembimbing akademik mahasiswa tunanetra 3,03 (cenderung enabling), sedangkan untuk aspek kognitif dan afektif enabling berupa keikutsertaan dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh mahasiswa tunanetra, keikutsertaan dalam memberikan informasi yang dibutuhkan, dan ekspresi empati masih cenderung constraining, tujuan layanan bimbingan dosen pembimbing dengan mahasiswa tunanetra 4,01 (sangat baik), kemandirian dan komitmen belajar mahasiswa tunanetra 3,71 (baik), dan motivasi belajar mahasiswa tunanetra 3,91 (baik).
Dari hasil temuan tersebut, direkomendasikan berupa pengembangan program penerapan pola interaksi dosen pembimbing dengan mahasiswa tunanetra di Universitas Pendidikan Indonesia.
Naharus Surur PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING YANG BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup. Secara substansial pengembangan program ini dapat dijadikan rujukan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah. Data empirik menunjukkan bahwa penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah belum dilandaskan pada kebutuhan nyata anak. Program bimbingan dan konseling yang disusun baru didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang selama ini dilakukan. Guru Pembimbing juga masih mengalami kesukaran dalam mengembangkan materi dan bentuk penilaian bimbingan dan konseling yang akan diberikan. Untuk menjawab fenomena tersebut perlu diadakan studi yang terpercaya dengan cara memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana menyusun program bimbingan dan konseling. Tesis ini berusaha memberikan gambaran pada Guru Pembimbing tentang bagaimana menyusun program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup.
Proses pengembangan program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup ini dilakukan melalui beberapa tahap. Urutan tahap kegiatan tersebut : Tahap I memperoleh informasi dengan memotret kondisi obyektif lapangan, mengkaji kerangka teoritis, mengkaji hasil-hasil penelitian yang relevan, dan mengkaji ketentuan formal yang berlaku. Tahap II merancang pengembangan program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup. Tahap III melaksanakan uji kelayakan melalui seminar dan lokakarya dengan Guru Pembimbing SMA se Kota Bogor dan para pengembang bimbingan dan konseling di PPPG Keguruan Jakarta. Tahap IV perbaikan, sehingga tersusun program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 1 Bogor.
Program bimbingan dan konseling yang berorientasi kecakapan hidup yang dikembangkan terdiri atas : Rasional, Visi dan Misi, Tujuan, Jenis Kecakapan Hidup, Kegiatan Layanan, Penilaian BK, Strategi Pelaksanaan, Sarana dan Prasarana, Kerjasama, serta Program Bimbingan dan Konseling yang Berorientasi Kecakapan Hidup di SMA Negeri 1 Bogor.
Implikasi hasil penelitian ini adalah memberikan masukan bahwa program bimbingan dan konseling hendaknya disusun berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik, dalam penyusunan program perlu melibatkan banyak fihak yang mendukung terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling, serta kemampuan dan kemauan Guru Pembimbing sebagai faktor utama keterlaksanaan program bimbingan dan konseling.
DUDI GUNAWAN PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN KARIR BAGI SISWA TUNARUNGU DI SLB-B YP3ATB CICENDO BANDUNG

Penelitian ini diangkat dari fenomena lapangan, bahwa sebagian besar kebutuhan yang dirasakan siswa tunarungu tentang karir belum mendapatkan pemenuhan dalam pelaksanaannya dan belum terprogram secara baik, dalam pelaksanannya masih dikaitkan dengan program atau kegiatan mata pelajaran. Sementara itu tuntutan kebutuhan karir yang dirasakan siswa secara nyata masih terabaikan. Guru pembimbing masih mengalami kesukaran dalam merumuskan dan mengembangkan materi pelaksanaan bimbingan yang akan diimplementasikan. Untuk menjawab fenomena tersebut perlu diadakan studi yang terpercaya dengan cara memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana menyusun program bimbingan karir. Penelitian ini berusaha memberikan gambaran pada guru pembimbing tentang bagaimana menyusun program bimbingan karir yang memenuhi kebutuhan siswa tunarungu.
Penelitian tentang pengembangan program bimbingan karir ini dilakukan melalui pendekatan tindakan kemitraan (Collaborative Action Research) yaitu suatu bentuk penelitian untuk meningkatkan layanan bimbingan karir yang sistematis dan mengacu kepada kebutuhan siswa tunarungu di SLB-B YP3ATB Cicendo Bandung. Penelitian ini mengikut sertakan keterlibatan guru kelas, guru keterampilan, pembimbing, dan kepala sekolah untuk merumuskan program bimbingan karir.
Adapun prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut. Kesatu : Assesmen identitas dan kebutuhan siswa tunarungu akan karir dan memperoleh informasi kondisi obyektif, mengkaji kerangka teoretis, dan mengkaji ketentuan formal yang berlaku. Kedua : Merumuskan pengembangan program hipotetik bimbingan karir yang didasarkan pada kajian teoretis dan kondisi objektif hasil penelitian. Berdasarkan temuan penelitian bahwa: 1)belum melaksanakan assesmen untuk melihat identitas siswa dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang menunjang karir siswa, 2)materi bimbingan karir yang diberikan belum mengacu kepada perkembangan karir siswa, 3)kegiatan layanan bimbingan karir belum dilaksanakan secara sistematis dan teoritis dan 4)belum menjalankan evaluasi secara priodik, sistematis dan menyeluruh. Ketiga: Rumusan penelitian ini diuji kelayakannya melalui seminar/diskusi untuk merevisi, masukan-masukan, dan menentukan program akhir bimbingan karir di SLB-B,melibatkan kepala sekolah, guru kelas, guru-guru dan guru pembimbing, Keempat: Implementasi program hasil pengembangan.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa, program bimbingan karir efektif bagi siswa tunarungu SLB-B. Indikator efektivitas ditandai dari, 1) kesadaran, kebutuhan, minat, dapat keluar dari fantasi,2) pandangan yang realistis tentang dunia kerja, berkeinginan mengembangkan diri dalam karir,dan 3) mampu menghubungkan dirinya dengan dunia kerja. Berdasarkan hasil kolaborasi dalam implementasi program bimbingan karir, implikasinya mengindikasikan di SLB-B YP3ATB Bandung, perlu program bimbingan karir yang dirancang secara sistematis dan didasarkan atas kebutuhan karir siswa dan kondisi objektif di sekolah.
Eddy Setiadi E PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN PRASEKOLAH
Studi Kasus tentang Pengembangan Program Bimbingan untuk Siswa TK Salman Al-Farisi Kota Bandung

Semakin semaraknya penyelenggaraan pendidikan prasekolah khususnya taman kanak-kanak belakangan ini merupakan suatu fenomena yang mengembirakan. Akan tetapi meningkatnya apresiasi terhadap keberadaan dan urgensi pendidikan prasekolah juga menimbulkan dilema baru, misalnya perbedaan persepsi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat secara keseluruhan dalam memaknai esensi dan misi pendidikan prasekolah. Polemik ini akan berpusat pada orientasi pendidikan prasekolah yaitu pendekatan akademik dan non-akademik. Terjadinya polemik semacam itu dikarenakan tidak adanya kesamaan pemahaman orang tua dan pendidik berkenaan dengan peran pendidikan prasekolah. Oleh karena itu guru berperan agar mampu menanamkan kesadaran kepada orang tua mengenai tugas dan peran pendidikan prasekolah dalam meningkatkan kemampuan anak. Pelaksanaan pendidikan prasekolah (TK) merupakan langkah awal untuk perkembangan kehidupan seseorang. Dikatakan demikian, karena dalam pendidikan prasekolah ditanamkan pola-pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan anak sejak dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak dalam aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap dan perilaku sosial (Supriadi, 1998: 169). Guna mencapai perkembangan itu, pendidikan prasekolah perlu menyiapkan program yang dapat membantu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak dini usia. Program yang dimaksudkan adalah program bimbingan.
Masalah penelitian secara umum dirumuskan sebagai berikut Bagaimana Pengembangan Program Bimbingan dalam Sistem Pendidikan Prasekolah? Adapun tujuannya adalah mengembangkan program bimbingan dalam sistem pendidikan prasekolah. Melalui pengembangan program bimbingan diharapkan guru mampu menerapkan layanan bimbingan dalam proses pembelajaran dengan lebih baik dan guru mampu memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak usia prasekolah. Metode penelitian yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan kuesioner. Subyek penelitian yaitu anak taman Kanak-kanak (TK) dan guru-guru TK Salman Al-Farisi Kota Bandung.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) guru telah memiliki pemahaman terhadap layanan bimbingan di Taman Kanak-kanak. Pengembangan program bimbingan yang dipahami oleh guru mulai dari perencanaan, pengelolaan, pelayanan bimbingan, dan evaluasi; (2) pengelolaan program bimbingan oleh guru dalam kegiatan belajar di TK belum menunjukkan keoptimalan; dan (3) anak dini usia secara umum telah menguasai tugas-tugas perkembangan. Penguasaan tugas-tugas perkembangan anak termasuk ke dalam kategori sedang. Penguasaan tugas-tugas perkembangan anak dini usia secara berurutan meliputi: kemampuan motorik, bahasa, emosi, kognisi, dan penyesuaian sosial.
Rekomendasi ditujukan kepada guru TK yaitu agar melaksanakan layanan bimbingan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan, guru hendaknya tidak memilah-milah satu aspek dengan aspek lainnya. Bagi peneliti selanjutnya yaitu meneliti variabel lainnya yang dianggap mempengaruhi peningkatan kemampuan anak dalam penguasaan tugas-tugas perkembangan, menelaah permasalahan yang sama dengan jumlah sampel yang lebih banyak di lokasi yang lebih luas, instrumen yang dikembangkan pada penelitian selanjutnya hendaknya lebih disempurnakan.
Otin Martini PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN PERILAKU SOSIAL ANAK USIA DINI DI KELOMPOK BERMAIN
(Studi Kasus di Kelompok Bermain Aryandini III Kecamatan Margacinta Bandung)

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan pada anak usia dini di kelompok bermain. Banyak anak pada usia dini menunjukkan perilaku sosial yang belum optimal. Hal ini terjadi karena perlakuan orang tua dalam memperlakukan anak usia dini yang kurang kondusif dan pelaksanaan layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain yang belum terprogram secara sistematis dan terarah.
Tujuan akhir penelitian ini adalah mengembangkan program layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan mengunakan metode studi kasus. Prosedur penelitian melalui lima tahapan, yaitu : 1) pengungkapan data tentang kondisi obyektif lapangan, 2) kajian konseptual tentang perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain, 3) perumusan pengembangan program hipotetik tentang layanan bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain, 4) validasi rasional melalui seminar dan lokakarya (semiloka), 5) rekomendasi rumusan program akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain belum optimal dalam hal : aspek empati dan membagi, seperti : belum mampu mau menghargai sesama teman dan belum mampu mau berbagi sesama teman. Perlakuan orang tua dalam memperlakukan anak usia dini di kelompok bermain, cenderung orang tua berlangsung dalam perlakuan terlalu melindungi (overprotection) sehingga anak menjadi manja dan berdampak pada perilaku sosial anak yang belum optimal. Pelaksanaan layanan bimbingan belum terprogram secara sistematis dan terarah, bimbingan hanya bersifat kasuistik, karena tenaga pendidik lebih mementingkan pengajaran daripada kegiatan bimbingan.
Bertolak dari hasil penelitian, diajukan rekomendasi kepada Kelompok Bermain Aryandini berupa pengembangan program bimbingan perkembangan perilaku sosial anak usia dini di kelompok bermain yang sudah divalidasi melalui seminar dan lokakarya, yang meliputi : rasional, visi, misi, tujuan layanan bimbingan, ruang lingkup bimbingan, metode, waktu dan tempat pelaksanaan bimbingan, komponen program bimbingan, jenis layanan bimbingan, evaluasi bimbingan dan program layanan bimbingan.


M. Rif’at
(Program Studi Pendidikan Matematika)

PENGARUH PEMBELAJARAN POLA-POLA VISUAL DALAM RANGKA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH-MASALAH MATEMATIKA
Eksperimen pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika di Kalimantan Barat

Penyelesaian masalah matematika dalam pembelajaran di perguruan tinggi cenderung dikerjakan secara analitik. Pada penyelesaian analitik tersebut, ditemukan tiga kesulitan yaitu, kesulitan melakukan manipulasi simbol, kesulitan menggunakan lodika deduktif, dan kesulitan membangun rantai penalaran. Karena itu, selain menggunakan sajian analitik, diperlukan sajian lain, yaitu sajian visual. Walaupun sajian visual telah digunakan dalam pembelajaran, sajian tersebut terutama diperankan sebagai alat bantu, sehingga penyelesaian masalah tetap dikerjakan secara analitik.
Dengan demikian, diperlukan pembelajaran matematika dimana sajian visual bukan sekedar digunakan sebagai alat bantu, tetapi secara bersamaan juga berperan sebagai strategi dan alat berpikir dalam menyelesaikan masalah, khususnya masalah-masalah yang berciri visual serta dapat divisualkan. Pembelajaran yang dimaksud menekankan tiga kemampuan, yaitu, kemampuan memvisualisasikan situasi masalah secara tepat, kemampuan melengkapi dan memanipulasi gambar, dan kemampuan mengkonstruksi gambar dari sajian analitik. Pembelajaran matematika secara analitik berkaitan dengan lama belajar, karena kemampuan dalam menggunakan cara tersebut meningkat sejalan dengan ciri matakuliah, yaitu makin menonjolkan kepentingan manipulasi simbol dan penalaran deduktif. Dengan demikian, perlu pula diketahui apakah keterkaitan seperti itu juga ada pada pembelajaran visual, yaitu dengan menggunakan peubah kontrol Semester Perkuliahan.
Penelitian ini berpopulasi adalah mahasiswa jurusan pendidikan matematika di Kalimantan Barat, dimana kemampuan mereka berbeda dengan kemampuan mahasiswa di tempat lain, jika dilihat dari mutu masukannya. Selain itu, di Kalimantan Barat, lembaga tempat kuliah dapat dibedakan antara Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri, apabila dilihat dari kualitas pengajar, fasilitas, waktu kuliah, dan status mahasiswanya. Dengan demikian, pembelajaran visual yang diteliti juga dikaitkan dengan Lembaga Tempat Kuliah sebagai peubah kontrol yang lain. Instrumen penelitian adalah butir soal tentang kemampuan visual dan memenuhi validitas isi dan wajah. Validitas isi ditimbang oleh 5 ahli dan dianalisis dengan Uji Q-Cochran (Q = 28,47), sedangkan validitas wajah untuk masing-masing butir soal dianalisis dengan Kai-kuadrat, secara berurutan dari butir nomor 1 hingga 6 nilainya adalah X² = 10,00, 4,90, 4,90, 6,40, 4,90, dan 10,00.
Hasil penelitian ini adalah bahwa, skor kemampuan visual mahasiswa setelah pembelajaran pola visual 3 lebih tinggi daripada setelah pembelajaran pola visual 2, dan skor kemampuan visual setelah pembelajaran pola visual 2 lebih tinggi daripada setelah pembelajaran pola visual 1. Tetapi, perbedaan skor kemampuan visual tersebut tidak signifikan menurut perbedaan semester dan lembaga tempat subjek berkuliah.

Rambat Nur Sasongko
(Program Studi Pendidikan Umum)

MODEL PEMBELAJARAN AKSI SOSIAL UNTUK PENGEMBANGAN NILAI-NILAI DAN KETERAMPILAN SOSIAL
(Studi Eksperimental pada Mahasiswa Peserta Kuliah Kerja Nyata Universitas Bengkulu)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya gejala erosi nilai-nilai dan keterampilan sosial di kalangan mahasiswa. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan membenahi sistem pendidikan di perguruan tinggi, melalui penerapan model pembelajaran aksi sosial pada Kukerta. Atas dasar itu, dapat dirumuskan permasalahan penelitian, “Apakah model pembelajaran aksi sosial, efektif untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial pada mahasiswa peserta Kukerta ?”.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas model pembelajaran aksi sosial dalam mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial pada mahasiswa peserta Kukerta. Diharapkan dapat tercipta inovasi model dalam bentuk manual praktis yang bermanfaat bagi pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial mahasiswa.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan disain empat kelompok Solomon. Subyek penelitian berjumlah 120 orang mahasiswa peserta Kukerta yang dipilih secara random. Instrumen yang digunakan terdiri atas tiga set, yakni : (1) pedoman perlakuan penggunaan model, (2) kuesioner nilai-nilai sosial, dan (3) kuesioner keterampilan sosial. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, kovarians, korelasi dan regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran aksi sosial efektif untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial mahasiswa peserta Kukerta. Dengan menerapkan model ini, mahasiswa menjadi meningkat nilai-nilai dan keterampilan sosialnya. Mereka lebih prososial dan lebih terampil bersosial. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak menerima perlakuan model, lebih rendah tingkatannya. Mahasiswa yang prososial lebih memiliki rasa kasih sayang, bertanggung jawab, dan serasi hidupnya. Demikian pula mahasiswa yang terampil bersosial, lebih matang dalam berperilaku terhadap lingkungan, interpersonal, diri sendiri dan tugas-tugasnya. Selain hal tersebut, ditemukan juga bahwa nilai-nilai sosial menentukan keterampilan sosial. Demikian pula sebaliknya.
Rekomendasi penelitian ini di antaranya: (1) model pembelajaran aksi sosial dapat dijadikan solusi alternatif dalam pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial mahasiswa, dan (2) disediakan manual praktis penggunaan model pembelajaran aksi sosial.
Udin Saripudin Winataputra
(Program Studi IPS)Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Sistemik Pendidikan Demokrasi
(Suatu Analisis Konseptual dalam Konteks Pendidikan IPS)

Disertasi ini melaporkan suatu penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pendidikan kewarganegaraan di Indonesia secara multidimensional, dan membangun landasan pemikiran bagi pendidikan kewarganegaraan yang juga bersifat multidimensional. Penelitian ini pada dasarnya berupaya untuk mendapatkan landasan teoritik dan pengalaman yang melandasi pendidikan kewarganegaraan di sekolah, dalam lembaga pendidikan guru, di masyarakat, dan dalam berbagai kegiatan akademik, yang secara konseptual dapat digunakan untuk mengembangkan suatu paradigma pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana sistemik pendidikan demokrasi.
Data yang dikumpulkan dengan melalui studi bibliografis, wawancara dan penyebaran kuesioner kepada para pakar dan praktisi yang terkait dengan pendidikan kewarganegaraan dari Jakarta, Bandung, Bandar lampung, Yogyakarta, Malang, dan Singaraja, kemudian dianalisis dengan metode verbatim dan analisis statistik dengan menggunakan SPSS, pada akhirnya ternyata telah dapat mengkonfirmasikan validitas, reliabilitas, dan uji beda dari seperangkat kompetensi dasar kewarganegaraan yang secara konseptual diyakini merupakan elemen esensial dari sistem pendidikan demokrasi.
Kesimpulan akhir yang ditarik dari penelitian ini adalah: pertama, bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan suatu tubuh pengetahuan yang memiliki ontologi-prilaku dan budaya kewarganegaraan yang bersifat multidimensional; epistemologi-penelitian, pengembangan, dan pembelajaran dalam konteks kurikuler dan sosial-kultural; dan aksiologi untuk memfasilitasi pengembangan tubuh pengtahuan itu sendiri, kurikulum dan pembelajaran, dan kegiatan sosial-kultural kewarganegaraan; kedua, secara paradigmatik sistem pendidikan kewarganegaraan memilki tiga komponen yang interaktif, yakni kajian ilmiah kewarganegaraan; program kurikuler pandidikan demokrasi; dan kegiatan sosial-kutural kewarganegaraan, Ketiga komponen tersebut secara koheren berlandaskan dan berorientasi pada pengembangan kecerdasan warganegara yakni demokratis, taat hukum, religius dan berkeadaban dalam konteks demokrasi konstitusional Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa seperti dirumuskan dalam 90 butir kompetensi dasar kewarganegaraan.
Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan bahwa komunitas akademis, termasuk di dalamnya para pakar dan praktisi pendidikan kewarganegaraan berupaya meningkatkan kualitas kurikulum dan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah, luar sekolah dan pendidikan guru; kerangka kegiatan sosial-kultural kewarganegaraan; metode penelitian; dan strategi pengembangan baha belajar dengan menggunakan pendekkatan yang berorientasi pada kompetensi kewarganegaraan secara koheren dan konsisten. Maman Suryaman
(Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia)MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA BERBASIS BACAAN DAN PEMBACA
(Studi tentang Bacaan Narasi dan Eksposisi dan tentang Pembaca Siswa SLTP)

Masalah di dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan model pembel-ajaran membaca yang mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa. Yang melatar-belakanginya adalah pertama kegiatan ilmu dan budaya sulit dilakukan tanpa menggunakan bahasa secara tertulis, yaitu membaca dan menulis. Kedua, kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan baca siswa Indonesia masih sangat rendah. Laporan IEA (1992) menunjukkan bahwa siswa SD berada pada urutan ke-26 dari 27 negara yang diteliti dalam hal kemampuan baca.
Untuk memecahkan masalah tersebut dikembangkan model pembelajaran membaca yang sesuai dengan hakikat membaca, yakni proses membaca menyangkut bacaan, pembaca, dan proses membaca. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Tahap-tahap yang dilalui adalah (1) studi pendahuluan berupa studi kualitatif untuk meneliti model pembelajaran membaca yang dikembangkan guru, analisis bahan bacaan pada buku pelajaran, dan analisis kurikulum Bahasa Indonesia dan berupa studi kuantitatif untuk meneliti pembaca dan kesesuaian antara bacaan dengan pembaca siswa SLTP di Kabupaten dan Kota Bandung; (2) pengembangan model pembelajaran membaca berbasis bacaan dan pembaca; dan (3) pengujian validasi model pengembangan.
Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa kegagalan dalam pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran membaca selama ini disebabkan oleh pendekatan yang digunakan tidak difokuskan pada upaya penciptaan kemampuan/keterampilan komunikatif. Pembel-ajaran membaca dilakukan melalui pendekatan satu arah. Siswa diminta untuk membaca bacaan, mengerjakan latihan, dan diakhiri dengan membahas hasil kerja siswa. Model demikian sangat tidak relevan dengan tingkat kepentingan siswa belajar membaca. Yang diperlukan siswa adalah bagaimana agar mereka menjadi pembaca yang handal. Berkenaan dengan bahan bacaan diperoleh temuan bahwa bahan bacaan belum dirancang secara memadai. Hal ini tampak dari rendahnya keterbacaan bahan bacaan. Berkenaan dengan pembaca tampak bahwa masih rendahnya kegiatan membaca, penguasaan aspek bahasa, kemampuan mengidentifikasi struktur karangan, serta kemampuan memahami isi bacaan. Faktor-faktor tersebut secara bivariat saling mempengaruhi.
Hasil uji validasi secara keseluruhan menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan yang signifikan dalam hal kegiatan membaca, keterbacaan bahan bacaan, penguasaan bahasa (kosakata baca dan kalimat), kemampuan mengidentifikasi komposisi karangan (kemampuan mengidentifikasi kalimat utama, organisasi karangan, dan jenis karangan) siswa. Artinya, perlakuan yang diberikan kepada siswa melalui model pembelajaran membaca berbasis bacaan dan pembaca memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum mendapatkan perlakuan melalui model ini. Dengan demikian, model pembelajaran membaca berbasis bacaan dan pembaca terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca.
Implikasi hasil penelitian ini adalah implikasi praktis berupa kemauan penyusun buku untuk menyediakan bahan bacaan yang memadai, keseriusan guru untuk menjadikan pem-belajaran membaca sebagai payung pembelajaran bahasa dan mengembangkannya sesuai dengan hakikat membaca, dan pensosialisasian model pembelajaran membaca berbasis bacaan dan pembaca sebagai alternatif pembelajaran membaca yang berkualitas. Implikasi teoretis menyangkut efektivitas pembelajaran membaca. Pembelajaran ini akan efektif bila didasarkan pada bacaan yang memadai, baik bahasa maupun struktur karangan); sesuai dengan perkembangan kognitif pembaca; serta langkah-langkah pembelajaran yang terstruktur melalui pendekatan komunikatif.

Bansu Irianto Ansari
(Pendidikan Matematika)

MENUMBUHKEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMU MELALUI STRATEGI TTW

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menelaah efektivitas strategi Think-Talk-Write (TTW) dalam upaya menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematik pada siswa SMU. Studi ini bersifat eksperimen dengan post test only control group design. Subyek sampel terdiri dari 323 siswa yang berasal dari tiga SMUN dengan peringkat sekolah berbeda. Perlakuan terhadap kelompok eksperimen, berupa pembelajaran matematika dengan strategi TTW dalam kelompok kecil/grup (eksperimen-1) dan secara klasikal (eksperimen-2). Sebagai pembanding adalah kelompok kontrol, belajar dengan pembelajaran seperti biasa (konvensional). Selain itu, studi ini juga dilengkapi dengan variabel pengetahuan awal siswa.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kemampuan pemahaman, dan komunikasi matematik, serta intensitas keaktifan siswa dalam pembelajaran, kepada mereka diberikan tiga jenis instrumen, yaitu tes Pemahaman Matematik (PM), tes Komunikasi Matematik (KM) dan kuesioner Indeks Kemampuan TTW (IKTTW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam setiap tahap penilaian, pembelajaran dengan strategi TTW dalam kelompok kecil memiliki kecenderungan perkembangan kemampuan yang semakin meningkat dari pembelajaran klasikal dan konvensional namun belum efektif, karena rata-rata kemampuan PM dan KM belum mencapai nilai cukup. Tingkat efektivitas pembelajaran dalam kelompok kecil terhadap pembelajaran konvensional bila dilihat dari nilai Effect Size (ES) masing-masing 0,303 untuk pemahaman dan 0,509 untuk komunikasi matematik, termasuk kategori sedang. Secara individual sebanyak 42 siswa (13 %) tuntas belajar (x 6,5) dan 91 siswa (28,2 %) memperoleh nilai cukup (5 x < 6,5).
Secara umum hasil lainnya sebagai berikut. Strategi pembelajaran TTW lebih besar pengaruhnya bagi siswa yang memiliki Pengetahuan Awal (PA) menengah ke atas, dan relatif kecil bagi siswa kategori bawah dalam upaya menumbuhkembangkan kemampuan PM dan KM. Pengetahuan awal memberikan efek langsung yang signifikan terhadap intensitas keaktifan siswa belajar (IKTTW) dan PM, sedangkan IKTTW tidak memberikan efek yang signifikan terhadap PM dan KM ( p < 5%). Namun PA dan IKTTW secara bersama-sama memberikan efek langsung yang berarti terhadap kemampuan PM dan KM. Efek langsung PM terhadap KM tergolong besar yaitu 38,8 %, dan efek bersama antara PA, IKTTW dan PM terhadap KM sebesar 48,6 %. Efektivitas pembelajaran dengan strategi TTW ternyata lebih meningkat, ketika guru lebih intensif memonitor aktivitas belajar siswanya.
Sulipan
(Administrasi Pendidikan) PENGELOLAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI KEJURUAN PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Fokus penelitian pada disertasi ini adalah pada permasalahan dalam pengelolaan diklat berbasis kompetensi kejuruan, adapun pembahasan yang lebih rinci adalah mengenai perencanaan diklat kejuruan, yaitu meliputi penetapan standar kompetensi dan faktor-faktor pendukungnya, kemudian tentang pelaksanaan diklat, meliputi pengelolaan proses pembelajaran dan uji kompetensi, selanjutnya juga diteliti mengenai pembinaan kreativitas dan kewirausahaan dan akhirnya adalah tentang sertifikasi sebagai pengakuan atas kompetensi yang telah dikuasai siswa/peserta diklat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan sampel sekaligus populasi yang diteliti adalah SMKN 2 Serang, SMK YPPT Garut, SMKN 4 Jakarta dan SMK Texmaco Karawang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa : (a) Pimpinan sekolah umumnya sudah menyadari pentingnya memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan penerapan diklat berbasis kompetensi. (b) Pimpinan sekolah umumnya juga sudah menunjukkan keseriusannya dalam melengkapi dan merawat fasilitas pembelajaran, walaupun terdapat hambatan dalam hal kekurangan dana untuk melengkapi dan merawat fasilitas belajar. (c) Komunikasi antara pimpinan dan bawahan serta antar bagian di sekolah masih perlu ditingkatkan supaya semua warga sekolah memahami program sekolah. (d) Perencanaan umumnya sudah mengacu pada standar kompetensi namun sebagian faktor pendukung diklat masih belum memadai dan beberapa sekolah perencanaan tidak dilakukan secara terintegrasi. Pengembangan kurikulum telah dilakukan dengan cara melakukan sinkronisasi dari kurikulum yang sudah ada terhadap standar kompetensi yang berlaku. Masih terjadi kesenjangan antara peralatan yang tersedia dengan tuntutan kompetensi, untuk itu diperlukan outsourcing atau kerja sama dengan pihak industri untuk memenuhi tuntutan kompetensi ini. Bahan ajar berupa modul individu masih terbatas jumlahnya, sehingga perlu dikembangkan lebih jauh. Media pembelajaran masih belum mencukupi untuk menunjang penguasaan siswa terhadap materi kompetensi yang dipelajari. Kebanyakan guru belum memiliki sertifikat kompetensi, terutama guru SMK swasta. Siswa antara sekolah negeri dan swasta memiliki perbedaan kemampuan intelektual, untuk itu perlu dikembangkan pembelajaran individual di mana kecepatan kemajuan belajar dapat disesuaikan dengan kemampuan siswa. (e) Pelaksanaan diklat ternyata belum sepenuhnya mengacu pada standar kompetensi., hal ini akan menyebabkan hasil pembelajaran tidak akan sesuai dengan standar kompetensi yang dijadikan acuan. Proses pembelajaran masih dilakukan secara klasikal, namun telah mulai dilakukan pembelajaran remidial sebagai bentuk penerapan belajar tuntas. Uji kompetensi masih dilakukan “biasa saja” menyatu dengan Ujian Akhir Nasional, padahal menurut konsep diklat berbasis kompetensi uji kompetensi dilakukan setiap selesai mempelajari satu kompetensi. (f) Pengawasan pada sebagaian sekolah belum dilakukan dengan baik. (g) Pembinaan kreativitas dan kewirausahaan umumnya belum dilakukan secara sungguh-sungguh. (h) Sertifikasi telah dilakukan oleh lembaga yang berwenang memberikan sertifikat, karena lembaga itu juga yang memiliki standar kompetensi kejuruan tersebut. Tapi yang menguji sebenarnya tidak meiliki hubungan dengan MPKN sebagai lembaga pemberi sertifikat. Hasil uji kompetensi lebih baik pada SMK negeri, kemungkinan besar disebabkan pada SMK negeri siswa yang masuk lebih terseleksi, sehingga memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dari pada siswa pada SMK swasta. Tri Joko Raharjo
(Pendidikan Luar Sekolah)PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KESETARAAN SLTP BAGI KAUM GELANDANGAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN TARAF HIDUP
(Studi Kasus di Pemukiman Gelandangan Kota Semarang)

Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimanakah menemukan model pembelajaran kesetaraan SLTP vokasional bagi kaum gelandangan yang dapat meningkatkan taraf hidupnya. Masalah dirumuskan dalam pertanyaan penelitian : (1) Dukungan dan hambatan yang mempengaruhi pembelajaran kesetaraan SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). (2) Bagaimanakah pengembangan model pembelajaran kesetaraan SLTP bagi kaum gelandangan di Kalialang Baru. (3) Bagaimana model akhir pembelajaran kesetaraan SLTP yang efektif bagi kaum gelandangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh model pembelajaran kesetaraan SLTP bagi kaum gelandangan dalam rangka mengangkat taraf hidupnya. Teori-teori yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah teori pembelajaran orang dewasa, perubahan sikap, dan kebutuhan manusia. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research and development), dan studi kasus, pengumpulan data dilakukan dengan taknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah warga gelandangan dan yang telah dimukimkan di Kalialang Baru. Analisis data diarahkan untuk menyusun deskripsi model pembelajaran kesetaraan SLTP bagi kaum gelandangan serta dukungan dan hambatan dalam pembelajaran kesetaraan SLTP bagi kaum gelandangan. Hasil penelitian adalah faktor dukungan dalam pembelajaran (1) Fasilitas bahan ajar dan kemudahan-kemudahan lain dalam pelayanan, (2) Tokoh masyarakat, dan (3) Adanya dana belajar. Hambatan dalam proses pembelajaran adalah (1) Waktu belajar, dimana warga belajar kesulitan menentukan waktu belajar karena warga belajar sudah lelah seharian untuk mencari nafkah, (2) Latar belakang budaya dan kebiasaan warga belajar, terbiasa dengan hidup tidak teratur, (3) Sulitnya berkonsentrasi dalam belajar. Hasil lain menunjukkan terbinanya warga belajar yang putus sekolah SLTP atau lulusan SD untuk memiliki ijazah setara SLTP. Terciptanya lapangan kerja baru, warga belajar menguasai keterampilan praktis, mampu mengembangkan dana usaha, mampu mengelola administrasi usahanya, memiliki penghasilan tetap. Terbentuknya model pembelajaran kesetaraan SLTP vokasional yang efektif, dibuktikan dengan adanya perubahan aspek pengetahuan, sikap, ekonomi, sosial, dan kesehatan serta gizi. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya dukungan dari berbagai pihak, keunggulan pembelajaran kesetaraan SLTP antara lain: bersifat lentur, warga belajar menguasai keterampilan praktis, terjadi interaksi yang transaksional, adanya campur tangan masyarakat dan pemerintah. Saran-saran: diperlukan keterlibatan para tokoh masyarakat baik formal maupun non formal, pendampingan, monitoring yang terus menerus agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana, pendirian koperasi sebagai wadah hasil para pemulung agar harga tidak dipermainkan oleh tengkulak, dan sebagai pijakan penelitian lanjutan pengembangan model pembelajaran yang efektif. Usman Radiana
(Administrasi Pendidikan) MANAJEMEN STRATEJIK DALAM PEMBINAAN DISIPLIN SISWA
(Studi Kasus Tentang Kebijakan Pembinaan Disiplin Siswa Di SMU Terpadu Krida Nusantara Bandung)

Sudah menjadi kesadaran bersama bahwa peningkatan mutu pendidikan melalui disiplin merupakan salah satu tuntutan kebutuhan bangsa. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut, diantaranya adalah dengan dicanangkannya Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Mengenalkan ide-ide dan pendekatan serta cara-cara baru dengan restrukturisasi dan rekayasa ulang, merupakan perwujudan dari upaya tersebut, kesemuanya itu disatukan dalam bentuk manajemen stratejik dalam pembinaan disiplin siswa di sekolah.
Kemajuan pembangunan di bidang pendidikan di Indonesia hingga saat ini, masih menunjukkan ketimpangan antara capaian kuantitatif dengan capaian kualitatifnya. Sejalan dengan itu, akselerasi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan kemasyarakatan melahirkan tuntutan dan tantangan baru pada dunia pendidikan sebagai salah satu wahana pengembangan sumber daya manusia, tidak terkecuali di Indonesia. Di lingkungan instansi pendidikan, tuntutan dan tantangan itu merespons dan inovatif dari tenaga kependidikan berkaitan dengan model manajemen stratejik dalam pengembangan disiplin siswa di sekolah, jabatan yang menjalankan fungsi manajerial maupun fungsi operasionalnya. Di dalam profesi tenaga kependidikan melalui proses pembinaan disiplin siswa dapat belajar lebih bermutu secara personal atau dilembagakan secara formal maka penciptaan mutu dan lulusan pendidikan bisa secara optimal.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan dua tahap kegiatan. Kegiatan pertama dilakukan dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menganalisis tentang kondisi objekfif pembinaan disiplin siswa di SMU Terpadu Krida Nusantara Bandung. Pada tahap kedua, berdasarkan hasil ldentifikasi dan analisis itu disusun secara hipotetik tentang manajemen stratejik dalam pembinaan disiplin siswa di tingkat sekolah yang diformulasikan dalam disertasi ini, diangkat dari atribut-atribut yang membangun sebuah model. Atribut-atribut itu dipilah-pilah untuk menentukan mana yang cenderung sebagai penentu arah, dan atribut mana yang cenderung sebagai vektor percepatan, baik vektor manajemen/pengelolaan maupun vektor belajar.
Hasil analisis secara kualitatif terhadap fenomena di lapangan menghasilkan beberapa kesimpulan: Pertama, SMU Terpadu Krida Nusantara merupakan sekolah swasta berasrama penuh (boarding School) di bawah yayasan Krida Nusantara Bandung, menggunakan empat pendekatan disiplin, yaitu Depdiknas, militer, keagamaan, dan wali asuh. Kedua, fungsi kelembagaan adalah menyelenggarakan pendidikan formal tingkat SMU dan mutu siswa yang ingin dihasilkan, siswa yang unggul, kompetitif, kreatif disiplin waktu, tertib administrasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta sumber daya internal yang profesional di bidangnya. Ketiga, efektivitas kinerja kelembagaan dalam pembinaan disiplin siswa SMU dianggap cukup berhasil, hal ini terbukti dengan semakin sedikitnya siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Keempat, keterpaduan antar intansi terkait seperti dengan Dinas Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan TNI angkatan Laut, namun disamping perlu dilakukan titik temu antara pihak SMU dengan lembaga pengguna seperti perguruan tinggi, perusahaan, sehingga diperlukan kerja sama yang lebih sinergis lagi antara guru, pembina kesiswaan, instruktur keterampilan dan siswa untuk mengoptimalkan potensi yang ada.
Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan itu, perluasan fungsi kelembagaan pembinaan disiplin siswa di sekolah direkomendasikan sebagai kebijakan yang harus dibuat secara menyeluruh untuk menyeimbangkan akselerasi ditinjau dari perspektif pendekatan disiplin Depdiknas, pendekatan disiplin militer, pendekatan disiplin keagamaan, pendekatan disiplin wali asuh, untuk menjadi model yang fisibel sehingga terjadi perluasan mandat sebagai penyedia lulusan yang menghasilkan siswa berprestasi berbasis disiplin yang memadai, sehingga diperlukan pemberdayaan sekolah melalui pemasyarakatan model manajemen stratejik dalam pembinaan disiplin siswa di sekolah. Darhim
(Pendidikan Matematik) PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR DAN SIKAP SISWA SEKOLAH DASAR KELAS AWAL DALAM MATEMATIKA

Penelitian ini adalah eksperimen dengan disain tes akhir tanpa tes awal menggunakan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan PMK (Pembelajaran Matematika Kontekstual) yang menerapkan tiga karakteristik RME (Realistic Mathematics Education) yaitu menggunakan masalah kontekstual, model, dan kontribusi siswa. Kelompok kontrol diberi perlakukan PMB (Pembelajaran Matematika Biasa).
Tujuan utama penelitian ini adalah menelaah tentang hasil belajar siswa, sikap siswa, dan keragaman pemodelan serta strategi penyelesaian masalah kontekstual untuk siswa yang belajarnya dengan PMK dan PMB.
Terdapat sebanyak 120 siswa Sekolah Dasar kelas II sebagai subjek sampel yang berasal dari 4 kelas pada 4 sekolah (2 sekolah baik dan 2 sekolah sedang) yang ditetapkan dengan teknik stratified purposive random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua macam instrumen, yaitu 4 buah tes matematika dan 1 perangkat angket skala sikap model Likert. Instrumen tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat validitas muka dan isi, serta koefisien reliabilitasnya berkisar antara 0,65 dan 0,85.
Temuan utama penelitian ini adalah ditinjau dari kelompok siswa, pembelajaran dengan PMK berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar dan sikap siswa daripada PMB untuk siswa lemah. Pada sekolah dengan kategori baik, pembelajaran dengan PMK berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar dan sikap siswa lemah daripada PMB. Pada sekolah dengan kategori sedang, pembelajaran dengan PMK berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar siswa lemah daripada PMB, tetapi untuk siswa pandai terjadi sebaliknya. Temuan lainnya adalah terdapat keragaman pemodelan dan strategi penyelesaian masalah kontekstual untuk siswa yang belajarnya dengan PMK dan PMB. Siswa yang belajarnya dengan PMK lebih terampil dalam menggunakan model (kongkrit, diagram, dan abstrak) dan strategi (informal dan formal) daripada siswa yang belajarnya dengan PMB. Jarnawi Afgani Dahlan
(Pendidikan Matematik) MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN OPEN-ENDED
(Studi Eksperimen pada Siswa Sekolah Lanjutan Pertama Negeri di Kota Bandung)

Penelitian ini bertujuan mengkaji pembelajaran matematika melalui pendekatan open-ended yang di kolaborasikan dengan strategi kooperatif. Akibat yang dilihat dari penelitian ini adalah kemampuan penalaran dan pemahaman matematik siswa. Selain secara kolektifitas pada kelas, penelitian ini juga melihat pengaruh pembelajaran terhadap kemampuan penalaran dan pemahaman siswa didasarkan atas jenis kelamin; laki-laki dan perempuan, dan kategorisasi kemampuan siswa; berkategori baik, sedang dan kurang. Dengan mengambil subjek sampel siswa kelas III SLTP sebanyak 108 orang diperoleh hasil bahwa pembelajaran matematika melalui pendekatan open-ended dengan strategi belajar kooperatif memberikan pengaruh yang berarti terhadap kemampuan penalaran dan pemahaman matematik.
Siswa yang belajar matematika melalui pendekatan open-ended dan strategi kooperatif signifikan lebih baik dibanding siswa yang belajar melalui pendekatan open-ended ekspositori dan pembelajaran biasa (tradisional). Jika pembelajaran tersebut diinteraksikan dengan jenis kelamin, diperoleh hasil bahwa ada pengaruh yang positif dari hasil interaksi pembelajaran matematika melalui pendekatan open-ended kooperatif dengan jenis kelamin terhadap kemampuan penalaran dan pemahaman matematik. Pengaruh interaksi lainnya adalah model pembelajaran dengan katagori siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa interaksi pembelajaran melalui pendekatan open-ended dengan kategori siswa menunjukkan pengaruh terhadap kemampuan penalaran dan pemahaman matematik siswa. Akan tetapi, pengaruh interaksi dari ketiga faktor, yakni model pembelajaran, jenis kelamin dan kategori siswa tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap kemampuan penalaran dan pemahaman matematik siswa. Dengan hasil penelitian ini, ada harapan bahwa meskipun kemampuan awal siswa minimal (kurang) dalam matematika tetapi dengan memberikan aktifitas matematika yang maksimal melalui pemberian tugas yang menarik siswa untuk berfikir, berinteraksi dengan teman-temannya melalui strategi kooperatif, dan pendekatan open-ended, maka siswa mampu menggunakan sumberdaya yang dimilikinya. Akibatnya kemampuan penalaran dan pemahaman matematik sebagai tujuan pembelajaran matematika tercapai dengan optimal.
Selain itu, pandangan siswa terhadap matematika tidak lagi hanya sebagai suatu ilmu yang teoritis, tetapi lebih dari itu, yakni matematika sebagai alat berfikir, matematika sebagai pemecahan masalah, matematika sebagai penalaran, matematika sebagai komunikasi, matematika sebagai koneksi, dan matematika dekat dengan lingkungannya. Deddy Mulyadi
(Administrasi Pendidikan) FAKTOR-FAKTOR STRATEGIK YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KINERJA DOSEN PERGURUAN TINGGI KEDINASAN
(Studi tentang Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Budaya Organisasi dan Manajemen Mutu terhadap Kinerja Dosen STIA LAN)

Tujuan penelitian ini secara umum dimaksudkan untuk mengetahui dan mengungkap gambaran karakteristik dari ketiga variabel strategik yang dianggap penentu dalam mempengaruhi kinerja dosen yang meliputi tiga domain yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat serta bertujuan membangun model Empirik yang menggambarkan karakteristik antar variabel melalui pola konsepsi alternatif pengembangan kinerja Dosen PTK.
Penelitian dilakukan di tiga kampus STIA LAN, Bandung, Jakarta, Makasar. Penelitian ini berjudul FAKTOR-FAKTOR STRATEGIK YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KINERJA DOSEN PERGURUAN TINGGI KEDINASAN (Studi tentang Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Budaya Organisasi dan Manajemen Mutu terhadap Kinerja Dosen STIA LAN).
Metoda yang digunakan penelitian adalah metoda kuantitatif. Tahapan analisis yang digunakan yaitu analisis konstruk, analisis kanonik, analisis korelasi & regresi dan analisis diskriminasi (uji beda) adapun hasil penelitian ini adalah (1) Pengembangan kinerja Dosen PTK pada STIA LAN dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan serta berbagai bentuk yaitu pengembangan oleh institusi seperti lokakarya, bedah buku, seminar, Diklat, diskusi terbatas antar dosen dengan melibatkan dosen namun belum menjadi daya ungkit maksimum. (2) Berdasarkan faktor-faktor strategik yang sangat dominan ditemukan suatu pola alternatif pengembangan kinerja dosen yang ditawarkan peneliti yang diharapkan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masa kini dan masa depan sesuai lingkungan strategik serta paradigma baru pemberdayaan yang efektif. (3) Pola konsep sistematis pada dasarnya merupakan sistem pengembangan untuk mencapai kinerja Dosen yang unggul dan berdaya saing tinggi yang dimungkinkan untuk karakteristik Dosen PTK. (4) Nilai-nilai yang menjadi anutan Lembaga Administrasi Negara yaitu Makarti Bhakti Nagari, yaitu Prestasi, Dedikasi, Partisipasi, Akuntabilitas, Keterbukaan yang dijadikan modal dasar apabila dikolaborasi dengan temuan penelitian akan sinergik positif. (5) Faktor yang berpengaruh dan berkorelasi dan berkontribusi terhadap pengembangan kinerja dosen yang berdaya saing unggul sebagai berikut :

1. Faktor yang berpengaruh pengembangan Kinerja Dosen yang berdaya saing unggul sebagai berikut :
1. Perilaku kepemimpinan menghasilkan temuan faktor dominan yaitu memilih dan menetapkan teknik mempengaruhi yang efektif dengan pendekatan kepemimpinan demokratis yang mampu meramalkan dan melaksanakannya secara optimal.
2. Budaya Organisasi menghasilkan temuan nilai keunggulan yang menjadi anutan dalam setiap langkah kegiatan.
3. Manajemen mutu menghasilkan temuan komitmen terhadap pengembangan proses dan hasil lulusan.
4. Tiga domain Tridharma Perguruan Tinggi sebagai kinerja Dosen meliputi pendidikan menghasil-kan temuan dalam bidang pendidikan yaitu pengendalian tugas terstruktur dalam bidang. Penelitian menghasilkan temuan peranan sumber dana dan dalam bidang pengabdian masyarakat menghasilkan temuan optimalisasi efektifitas pelaksanaan pengabdian masyarakat yang adaptif dan produktif.
5. Organisasi pembelajar perlu diaktualisasikan secara optimal antar kelompok dosen untuk pengembangan kinerja Dosen sebagai daya ungkit yang efektif dalam proses manajemen STIA LAN.
2. Pola konseptual alternatif pengembangan kinerja Dosen yang ditawarkan peneliti merupakan sistem dan prosedur kerja dalam upaya mewujudkan peningkatan kinerja Dosen yang unggul dan berdaya saing dengan basis perilaku kepemimpinan dan budaya organisasi yang bernilai keunggulan serta manajemen mutu yang berorientasi pengembangan proses dan hasil lulusan sehingga diperlukan adanya kebijakan strategik dan kebijakan operasional yang memadai dan cerdas pada semua level kebijakan.
3. Dari kondisi tersebut direkomendasikan perlu penataan ulang sistem pengembangan kinerja Dosen hendaknya pola pengembangan kinerja Dosen tidak parsial dengan pengembangan substansi lainnya namun harus terintegrasi dan terstruktur dengan jelas.

Euis Karwati
(Administrasi Pendidikan) PENGEMBANGAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN BIDANG STUDI KESENIAN SEKOLAH DASAR INDUK PENGEMBANGAN KESENIAN (SD IPK) JAWA BARAT

Fokus masalahnya, yaitu bagaimana pengembangan model sistem pembelajaran pendidikan kesenian SD IPK Sekolah Dasar Induk Pengembangan Kesenian (SD IPK), melalui MBS menuju sekolah berwawasan keunggulan berbasis kesenian di Jawa Barat. Sub fokus masalah yang diajukan adalah sebagai berikut: (1) profil SD IPK Jawa Barat dilihat dari aspek manajemen pengembangan sekolah berwawasan keunggulan; (2) strategi yang digunakan untuk meningkatkan keunggulan manajemen SD IPK Jawa Barat; (3) pengembangan manajemen pembelajaran pendidikan kesenian SD IPK dalam mewujudkan sekolah yang berbasis kesenian. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model pengembangan sistem pembelajaran pendidikan kesenian SD IPK Jawa Barat dalam desentralisasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan dan metoda penelitian ini adalah Reseach and Developmen (R &D) yang dilaksanakan dalam beberapa langkah mengacu kepada siklus yang dikembangkan yaitu: 1) pengumpulan informasi; 2) perencanaan; 3) pengembangan pendahuluan; 4) ujicoba dan revisi pendahuluan; 5) ujicoba dan revisi lanjutan; 6) analisis dan evaluasi; 7) implementasi
Kesimpulan dalam penelitian ini ditemukan bahwa pembelajaran pendidikan kesenian di SD IPK belum efektif maka perlu dikembangkan sistem manajemen pembelajaran pendidikan kesenian di SD IPK yang relevan dengan kondisi lingkungan sekolah dengan melihat : (1) keadaan guru yang belum kompeten, perlu dilakukan pelatihan dan up-grading untuk meningkatkan kemampuan mengajar baik yang bersifat intra kurikuler maupun ekstra kurikuler; (2) sarana dan prasarana kesenian sudah tidak memadai lagi; (3) tidak adanya ruang serbaguna di sekolah untuk pengembangan kesenian; (3) peranan Dewan Sekolah belum optimal; (5) melihat nilai positif Porseni yang memberikan motivasi terhadap prestasi anak didik perlu diintensifkan kembali.
Implikasi dari keadaan ini jika tidak ditata dan dikembangkan kembali maka sekolah unggulan dan pembelajaran pendidikan kesenian yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan tidak akan tercipta.
Oleh karena itu peneliti mengajukan beberapa rekomendasi yang disampaikan dalam penelitian ini yaitu untuk membangkitkan kembali masa kejayaan SD IPK perlu diterbitkan setingkat peraturan daerah di propinsi dan kabupaten/kota yang mengaturt tentang SD IPK di Jawa Barat, strategi pengelolaan yang mengacu kepada konsep manajemen berbasis sekolah sehingga dimungkinkan dapat mencapai tingkat keunggulan, perlu mengalokasikan anggaran secara khusus untuk pengelolaan SD IPK, mengangkat guru SD IPK dari lulusan SMKI, STSI setelah mendapat tambahan tentang pengetahuan mengajar. Nurlan K
(Pendidikan Luar Sekolah)PEMBELAJARAN HIDUP SEHAT BAGI USIA LANJUT BERBASIS MASYARAKAT
(Studi Pengembangan Hidup Sehat Terpadu Menggunakan Pendekatan Gerogogi

Pengembangan pembelajaran hidup sehat usia lanjut berbasis masyarakat sangat tergantung kepada disain, prosedur, metodologi, sistem dan pengembangan jaringan belajar serta sumber-sumber belajar yang dapat diakses dan digunakan. Pembelajaran hidup sehat usia lanjut didasari oleh usulan pemikiran dalam humanagogi bahwa bahwa proses pembelajaran yang dilakukan ditentukan oleh usia warga belajar dan perbedaan tugas-tugas perkembangan manusia dalam setiap rentangan usianya. Untuk pembelajaran usia anak-anak terutama di sekolah-sekolah dikenal istilah pedagogi, untuk usia dewasa dikenal istilah andragogi dan bagi usia lanjut dikenal istilah gerogogi atau eldergogi.
Tujuan penelitian ini adalah mengungkap gambaran keberadaan dan kontinyuitas proses pembelajaran hidup sehat usia lanjut pada lembaga pemerintah dan non pemerintah, penerapan prosedur pembelajaran hidup sehat usia lanjut yang terjadi di lapangan pada tingkat individu maupun pada tingkat lembaga, pengaruh berbagai potensi masyarakat terhadap pembelajaran hidup sehat usia lanjut, upaya-upaya yang dilakukan oleh lembaga dalam mengembangkan pembelajaran hidup sehat usia lanjut, serta menawarkan model pembelajaran hidup sehat terpadu bagi usia lanjut berbasis masyarakat.
Secara metodologis penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kualitatif dengan subjek terbatas, metode deskriptif dengan studi kasus serta prosedur penelitian dan pengembangan (research and development). Alur kegiatannya secara garis besar sampai tersusunnya model pembelajaran hidup sehat terpadu berbasis masyarakat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu penelitian pendahuluan, penelitian lapangan, dan uji coba model menggunakan penelitian eksperimen dengan “control group pre and post test design”. Subjek terbatas dengan studi kasus untuk penelitian lapangan yaitu lima orang usia lanjut dan lima buah lembaga tempat usia lanjut tersebut aktif berorganisasi di Kota Bandung dan Jatinangor. Subjek untuk uji coba model yaitu 30 orang, terdiri atas 15 orang kelompok eksperimen dan 15 orang kelompok kontrol. Semua subjek berusia di atas 60 tahun.
Hasil penelitian lapangan adalah tersusunnya model pembelajaran hidup sehat terpadu bagi usia lanjut berbasis masyarakat yang dapat diimplementasikan di tingkat individu dan lembaga. Hasil uji coba model menggunakan penelitian eksperimen yaitu : (1) Terdapat perbedaan hasil antara tes awal (M = 121,8) dengan tes akhir (M = 122,6) dari kelompok kontrol untuk seluruh dimensi; (2) Terdapat perbedaan hasil antara tes awal (M = 122,4) dengan tes akhir (131,73) dari kelompok eksperimen untuk seluruh dimensi; (3) Hasil tes akhir untuk seluruh dimensi dari kelompok eksperimen (M = 131,73) lebih baik dibandingkan dengan hasil tes akhir kelompok kontrol (M = 122,6). Dalam kelompok eksperimen, melalui analisis kualitatif teridentifikasi 14 aspek yang harus diperbaiki. Hal ini bermakna bahwa model temuan akhir memadai untuk digunakan sebagai model pengembangan pembelajaran hidup sehat terpadu berbasis masyarakat oleh individu-individu dan lembaga usia lanjut.
Penelitian ini berimplikasi praktis terhadap kebijakan pendidikan kesehatan nasional, misalnya diperlukan reorientasi pendidikan kesehatan di sekolah, keluarga, dan masyarakat, agar diarahkan kepada peningkatan pola pikir, sikap dan perilaku hidup sehat sepanjang hayat; Penggunaan iptek mutakhir secara aktif dalam proses pembelajaran hidup sehat merupakan dasar untuk mengantisipasi globalisasi serta perencanaan yang berorientasi ke masa depan hendaknya menjadi muatan kurikulum pendidikan sekolah dan luar sekolah.
Direkomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan menggunakan subjek penelitian dengan rentangan usia berbeda dan lebih luas, anggaran pembelajaran usia lanjut, sistem pendidikan usia lanjut, atau pendidikan pra usia lanjut; Hendaknya segera melakukan inovasi yang rasional, dengan mengadopsi kemajuan bidang pendidikan kesehatan negara-negara yang lebih maju dari Indonesia tanpa menghilangkan ciri khas budaya Indonesia; Bagi lembaga-lembaga PLS hendaknya lebih terbuka untuk membuka program-program pendidikan bagi para usia lanjut. Cornelia J. Benny
(Administrasi Pendidikan)PENGEMBANGAN MANAJEMEN DOSEN DI PERGURUAN TINGGI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MUTU KINERJA DOSEN
(Penelitian Tentang Pengembangan Manajemen Dosen untuk Meningkatkan Mutu Kinerja Dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung)

Dalam menghadapi tantangan abad ke-21 atau milenium ketiga, yang ditandai dengan adanya era globalisasi, era reformasi dan era kompetisi, peranan sumber daya manusia (SDM) untuk kemajuan organisasinya menjadi hal yang amat penting karena sumber daya manusia memiliki peran yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan organisasi di lingkungan perguruan tinggi yang pada saat ini dan masa datang dituntut menjadi organisasi yang otonom sehingga berdampak terhadap manajemen sumber daya manusia.
Manajemen SDM yang dibutuhkan adalah manajemen yang relevan dengan tuntutan lingkungan eksternal perguruan tinggi yang selalu berubah dan berkembang ke arah yang lebih kompetitif dan profitable. Kondisi manajemen SDM Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) pada saat ini yang terus menerus mengalami perubahan secara wajar dan alamiah perlu diintervensi dengan berbagai pengetahuan manajemen berbasis hasil penelitian. Fenemona yang saat ini terjadi dan menjadi fokus penelitian terdiri dari (1) faktor penghambat dan faktor penunjang terhadap mutu kinerja dosen; (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi manajemen dosen; dan (3) implementasi manajemen dosen. Atas dasar temuan-temuan terhadap fenomena tersebut maka dikembangkan konseptualisasi pengembangan manajemen SDM STSI, termasuk manajemen strategiknya.
Dalam upaya mendeskripsikan dan menginterpretasikan fenomena-fenomena tersebut di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data seperti wawancara, kuesioner, dokumentasi, dan observasi. Data yang terkumpul direduksi, dibuat kategorisasi berdasarkan struktur permasalahan yang diteliti dan diinterpretasi untuk memperoleh kebermaknaan. Berdasarkan pendekatan penelitian tersebut maka diperoleh kesimpulan umum bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi implementasi manajemen dalam rangka meningkatkan kinerja dosen yakni kepemimpinan, sumber daya manusia, dan strategi implementasi manajemen. Kepemimpinan berkaitan erat dengan implementasi manajemen dosen, sedangkan implementasi manajemen secara langsung mempengaruhi kemampuan dan motivasi yang pada akhirnya berdampak terhadap kinerja dosen. Kualitas dosen paling dominan menentukan implementasi manajemen dosen mulai dari perencanaan sampai pada evaluasi. Pada kesimpulan umum tersebut terjadi pertautan penting antara manajemen, kepemimpinan dan dosen.
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat dikemukakan beberapa landasan pemikiran sebagai titik pangkal pengembangan manajemen dosen di STSI. Pertama, pengembangan manajemen merupakan proses yang terus-menerus berlangsung sesuai dengan kondisi eksternal lembaga yang secara terus-menerus mengalami perubahan. Kedua, pengembangan manajemen dosen merupakan salah satu fenomena perubahan yang terjadi dalam manajemen guna menghasilkan performansi manajemen bermutu yang mempunyai kemampuan self-renewal. Ketiga, manajemen dosen yang bermutu menghasilkan dosen yang bermutu pula sebab fungsi utamanya adalah memberikan layanan kepada dosen dalam meningkatkan performansinya.Keempat, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi manajemen dalam rangka meningkatkan kinerja dosen yakni kepemimpinan, sarana dan prasarana, budaya, komitmen dan motivasi. Kelima, manajemen pengembangan dosen dipandang sebagai salah satu sistem diantara berbagai sistem kelembagaan, mempunyai komponen strategik yaitu (1) perencanaan, (2) penggunaan, (3) pengembangan dan pelatihan, (4) pemeliharaan dan (5) evaluasi. Keenam, fikiran dasar manajemen mutu menjadi landasan proses pengembangan manajemen dosen, diantaranya: (1) zero defect; (2) kerja sama tim; (3) budaya mutu; dan (4) pemberdayaan berorientasi.
Berdasarkan landasan pemikiran tersebut maka terdapat lima unsur pokok dalam model pengembangan manajemen dosen yaitu (1) visi dan misi, (2) fokus pengembangan; (3) proses pengembangan; (4) hasil pengembangan; (5) manfaat dan dampak pengembangan. Konstelasi kelima unsur tersebut ditransformasikan dalam manajemen strategik SDM STSI . Pertama, visi dan misi STSI merupakan pedoman yang harus dijadikan dasar dalam setiap upaya pengembangan kelembagaan, termasuk pengembangan manajemen. Kedua, Strategi pengembangan manajemen terdiri dari tiga komponen pokok yaitu manajemen, kepemimpinan dan sumber daya manusia. Ketiga, orientasi manajemen yaitu orientasi budaya mutu, berbasis sistem dan team work. Keempat, adalah operasional manajemen sumber daya manusia yang terdiri dari perencanaan, penggunaan, pengembangan, pemeliharaan dan evaluasi yang dituangkan dalam program-program pengembangan sumber daya manusia. Kelima, output strategi pengembangan manajemen dosen yaitu performansi kinerja dosen baik secara kualitas maupun kuantitas dalam pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Marjuki
(Pendidikan Luar Sekolah)PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATOF BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENCEGAH PENYALAHGUNAAN NAPZA

Masalah penyalahgunaan NAPZA dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor internal dari individunya maupun faktor eksternal dari lingkungan masyarakat. Disertasi ini disusun untuk menggambarkan bentuk pembelajaran, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya pembelajaran masyarakat dan mengembangkan model pembelajaran kolaboratif berbasis masyarakat yang efektif dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA.
Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pembelajaran masyarakat, teori tentang pendidikan orang dewasa, teori tentang pembelajaran kolaboratif dan konsep-konsep mengenai penyalahgunaan NAPZA yang meliputi jenis-jenis narkotika, dampak yang ditimbulkan dari penyalahgunaan NAPZA, faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA, gejala-gejala yang dapat diamati dari korban penyalahgunaan NAPZA dan penanganan korban penyalahgunaan NAPZA.
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian pengembangan. Tahapan penelitian dimulai dari studi kepustakaan, analisis empiris dan teoritis, membuat draft konsep model pembelajaran kolaboratif, merancang penelitian, mengumpulkan data, mempersiapkan draf model pembelajaran kolaboratif, melakukan uji coba model dan melakukan validasi. Subyek penelitian ini adalah pengurus organisasi lokal dalam hal ini dikoordinasikan dalam bentuk Forum Warga.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah diskusi kelompok terfokus, wawancara dan observasi. Untuk melihat koefisien korelasi dan kontribusi masing-masing variabel digunakan T-test dan analisa jalur. Variabel-variabel yang diuji koefisien korelasinya adalah variabel pengetahuan, minat, motivasi, tanggung jawab, dan variabel harapan yang dikorelasikan dengan variabel keterlibatannya dalam pembelajaran kolaboratif, sedangkan untuk melihat efektivitas model terhadap pencegahan penyalahgunaan NAPZA digunakan Uji Wilcoxon yang membandingkan kondisi permasalahan penyalahgunaan NAPZA sebelum dan sesudah model diaplikasikan. Hasil uji statistik terhadap variabel-variabel tersebut diperoleh nilai 4,808 untuk variabel pengetahuan, nilai 0,682 untuk variabel minat, nilai 4,227 untuk variabel motivasi, nilai 3,355 untuk variabel tanggung jawab, nilai 3,639 untuk variabel harapan dan untuk pengujian hipotesa tentang efektifitas model pembelajaran kolaboratif diperoleh nilai probabilitasnya dibawah 0,05. Hal ini berarti bahwa model pembelajaan kolaboratif cukup efektif dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA. Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa penerapan model ini secara signifikan mendorong warga belajar untuk mengembangkan upaya-upaya pencegahan NAPZA secara kolektif.
Kesimpulan dari penelitian adalah bahwa proses pembelajaran kolaboratif secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan, minat, motivasi, tanggung jawab dan harapan warga belajar dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan efektif dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA. Implikasi praktis yang dirasakan adalah meningkatnya keberanian masyarakat dalam menghadapi permasalahan penyalahgunaan NAPZA dengan mengoptimalkan sumber yang mereka miliki. M Ilham Abdullah
(Pendidikan Luar Sekolah)PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI PADA KELOMPOK BERMAIN PSTPA DHARMAWANITA BENGKULU

Mencermati fenomena proses pembelajaran bermain anak usia dini pada KB-PSTPA BENGKULU, yang dinilai masih perlu meningkatkan upaya dalam memberi sentuhan rangsangan pengembangan potensi anak seperti sikap, bahasa, daya pikir, keterampilan, dan jasmani termasuk aspek kreativitas. Hal ini bertentangan dengan tujuan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1990, dimana kreativitas menjadi aspek penting yang harus dikembangkan.
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan secara empiris model pembelajaran bermain secara holistik yang dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak secara optimal. Selaras dengan teori humanistik yang menekankan keterpaduan antara domain dengan domain kognitif. Piaget (Forman, 1983) juga menyarankan agar aspek kognitif, moral dan fisiologis dirangsang pengembangannya secara terpadu dalam aktivitas pembelajaran, karena menurut Gordon (1985) perkembangan anak usia dini belum terjadi differensiasi antara pikiran, tindakan dan perasaannya. Selanjutnya menurut Hurlock (1994) dan Bredkamp (1997) dan Supriadi (2002) bahwa bermain adalah sangat penting artinya bagi anak. Anak dan bermain tidak dapat duipisahkan. Lewat aktivitas bermain potensi anak , sikap positif dan rasa percaya diri dapat berkembang ke arah yang lebih matang dengan memfasilitasi materi kegiatan bermain yang sesuai dengan kebutuhan, pengalaman, karakteristik dan kemampuan anak.
Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan Research and Devepment. Penelitian yang bersiklus, berlapis, berulang dan berkesinambungan, mulai dari studi awal, penyusunan rancangan model konseptual (hipotetik) kemudian diuji kelayakannya (validasi), diujicoba dan terus menerus dievaluasi dan direvisi hingga dihasilkannya model pembelajaran bermain secara holistik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran anak usia dini pada kelompok bermain. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan.
Komponen-komponen model tersebut antara lain: 1) tujuan dan asumsi; 2) lingkup dan paradigma model; 3) tahapan pembelajaran bermain; 4) peran dan prinsip reaksi pendidik; 5) sistem penunjang; 6) sistem sosial; 7) aplikasi; 8) produk model; 9) kriteria kebrhasilan model; 10) dampak dalam implementasi model.
Hasil penelitian ini adalah diperolehnya model pembelajaran bermain yang lebih efektif yakni dapat mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini secara komprehensif. Dikatakan efektif karena model ini: 1) dirancang secara sistimatis, logis dan rinci dimulai dari penentuan alat-alat permainan yang dimulai dengan epnentuan tema, fokus pengembangan, penentuan kegiatan bermain dan penentuan alat-alat bermain selain yang diuperlukan; 2) metode dan teknik dalam proses pembelajaran bermain dan alat-alat permainan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak didik; 3) alat-alat permainan selain mudah dibuat juga dapat digunakan dari bahan-bahan yang murah dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar; 4) difasilitasi berbagai ragam dan bentuk permainan yang disenangi anak. Dengan bentuk dan jenis permainan yang bervariasi tersebut disamping membuat anak tidak bosan juga dapat merangsang dan meletakkan dasar seluruh aspek potensi perkembangan anak. Selain itu pendidik KB mampu memahami, membuat model program dan menerapkannya sehingga anak didik dapat aktif bermain sambil belajar dengan rasa gembira tanpa membahayakan diri mereka.
Sehubungan dengan itu maka direkomendasikan kepada lembaga pengelola KB untuk mengimplementasikan model ini dengan catatan pendidik/pengasuh KB terlebih dahulu diberi pemahaman konsep dan prinsip pembelajaran bermain dalam penyusunan rancangan dan penerapnnya. Nanik Yuliati
(Bimbingan dan Konseling) MODEL KONSELING KELOMPOK BERDASARKAN PENDEKATAN KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MEMBANTU REMAJA DALAM MENANGANI KRISIS IDENTITAS DAN DAMPAKNYA PADA PENURUNAN TINGKAT PROBLEM PSIKOSOSIAL

Meningkatnya penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di kalangan pelajar, khususnya para pelajar remaja atau para siswa SMA, pada beberapa tahun belakangan ini merupakan fenomena umum yang memiliki implikasi langsung bagi pengembangan program-program bimbingan dan konseling sekolah. Namun, untuk saat ini upaya penanggulangan narkoba di kalangan siswa banyak mengalami hambatan karena adanya keengganan dari para siswa untuk mengakui bahwa dirinya menyalahgunakan narkoba. Oleh karena itu, penanggulangan penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan dengan cara tidak langsung dengan memusatkan perhatian pada penanganan problem perilaku lain yang memiliki kaitan erat dengan penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil-hasil penelitian, terdapat saling hubungan yang sangat kuat antara problem penyalahgunaan narkoba dengan depresi dan kenakalan. Remaja yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba pada umumnya mengalami depresi dan/atau kenakalan, dan sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan dengan cara menangani problem depresi dan kenakalan.
Dalam literatur, depresi, kenakalan, dan penyalahgunaan narkoba diidentifikasi sebagai tiga bentuk problem psikososial yang paling umum dialami oleh remaja. Menurut perspektif perkembangan yang banyak memusatkan perhatian pada perkembangan remaja, yakni teori perkembangan psikososial dari Erikson (1968), problem psikososial pada remaja dapat diatribusikan dengan adanya hambatan dalam menangani isu perkembangan psikososial pada periode remaja, yakni krisis identitas.
Secara umum, penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh suatu model intervensi konseling yang efektif untuk menangani krisis identitas dan problem psikososial remaja. Secara khusus, penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu: (1) untuk menguji keefektifan konseling kelompok kognitif-perilaku (KKKP) sebagai metode intervensi untuk membantu remaja dalam menangani krisis identitas; (2) untuk menguji keefektifan penggunaan teori perkembangan dari Erikson sebagai kerangka kerja konseptual untuk mengembangkan program intervensi guna menanggulangi problem psikososial (depresi dan kenakalan) remaja; dan (3) untuk mengetahui pengaruh perbedaan komposisi jenis kelamin dalam kelompok konseling kelompok pada tingkat keterlibatan anggota dalam proses kelompok.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan eksperimen kuasi, yakni nonequivalent control group. Subyek penelitian adalah 48 siswa kelas tiga SMAN 1 Arjasa Jember yang memiliki problem depresi dan/atau kenakalan pada kategori tinggi dan kurang berhasil dalam menangani krisis identitas. Temuan dalam penelitian ini yaitu: (1) konseling kelompok kognitif-perilaku merupakan salah satu model intervensi yang efektif untuk meningkatkan keberhasilan remaja dalam menangani krisis identitas; (2) teori perkembangan dari Erikson dapat digunakan sebagai kerangka kerja konseptual yang efektif untuk merancang program intervensi guna menanggulangi problem psikososial; dan (3) perbedaan komposisi jenis kelamin dalam kelompok tidak mempengaruhi tingkat keterlibatan anggota kelompok dalam proses kelompok. Terdapat temuan lain yang menyatakan bahwa model konseling kelompok kognitif-perilaku yang diuji dalam penelitian ini dinilai oleh para konselor SMA sebagai metode intervensi yang cukup mudah untuk diimplementasikan. Berdasarkan pada temuan-temuan penelitian tersebut, penulis merekomendasikan kepada peneliti lain untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini, khususnya untuk melihat dampak dari meningkatnya keberhasilan dalam menangani krisis identitas pada pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa remaja. Yunita
(Pendidikan Ilmu Pengetahan Alam)PENGEMBANGAN ALAT UKUR HASIL PEMBELAJARAN KIMIA DI SMU YANG SESUAI DENGAN HAKIKAT ILMU KIMIA DAN HAKIKAT PENDIDIKAN KIMIA

Penelitian dan pengembangan ini dilakukan dalam rangka mengembangkan alat ukur yang sesuai dengan Hakikat Ilmu Kimia mencakup proses, produk dan sikap ilmiah. Sementara evaluasi yang dilaksanakan cenderung hanya mengevaluasi penguasaan produk IPA. Oleh karena itu perlu pengembangan alat ukur yang sesuai dengan Hakikat Ilmu Kimia dan Hakikat Pendidikan Kimia di SMU. Dalam studi ini dilakukan empat tahap, yaitu tahap inventarisasi, analisis alat ukur, pengembangan alat ukur, ujicoba, dan hasil akhir. Subjek penelitian masing-masing dua sekolah yang mewakili sekolah kelompok tinggi, sedang, dan rendah dengan melibatkan 5738 siswa.
Hasil penelitian adalah alat ukur yang sesuai dengan Hakikat Ilmu Kimia yang mengandung aspek proses, produk, dan sikap ilmiah. Dari 371 soal diperoleh 107 soal yang valid dengan empat kali uji validasi dan satu kali uji reliabilitas, meliputi bahan ajar Transformasi, Struktur, dan Terapan dengan jenjang kelas I,II,III caturwulan dua kurikulum 1994 dengan karakteristik 1) memvisualisasikan materi kimia yang abstrak, 2) mengaplikasikan kimia dalam kehidupan sehari-hari, 3) memberikan materi yang berhubungan dengan kegiatan praktikum. Alat ukur ini dapat diberikan pada semua kelompok siswa, jika pembelajaran di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan, dan alat ukur ini dapat membantu guru dalam mengevaluasi pembelajaran sehingga pembelajaran dapat diperbaiki setiap saat.
Dari hasil penelitian ini direkomendasikan 1) Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan alat ukur ini memperhatikan Hakikat Ilmu Kimia dalam pembelajarannya; 2) sebaiknya guru dalam pembelajarannya memberikan pengalaman belajar dalam menggunakan alat/ bahan Kimia supaya siswa terampil sesuai dengan tuntutan kurikulum 2004 dalam penilaian aspek psikomotor; 3) hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas alat ukur sehingga menjadi satu perangkat evaluasi kimia yang komprehensif di SMU; 4) secara Nasional pihak yang berwenang dalam pengembangan alat ukur (Pusat Kurikulum dan Pusisjian) mengeluarkan secara berkala standar alat ukur yang dapat dijadikan pedoman oleh guru. Zuhdan K.P.
(Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam) MODEL PERKULIAHAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGAJAR IPA MAHASISWA CALON GURU SEKOLAH DASAR

Teacher is one of the key factors of improving the quality of education and has a strategic role to promote better quality for the higher level of education. However, the competencies of the primary schools teachers for all subject matter are still under 50 %, while for the science teachers is still the lowest i.e. 35 %. It takes long time to prepare good quality of teachers; and pre-service teacher training is one of the solutions. In pre-service teacher training programs for primary school science teachers, it was recommended to implement integrated model of teaching i.e. integration of demonstration, discussion, preparation of lesson plan, peer teaching, and enforcement (D2P3)
The main purposes of this research are:

1. to develop the methods of teaching learning science in the pre-service programs for primary school science teachers
2. to describe the role of implemented strategies in integrated teaching learning model.
3. to describe the theories and its implementations in integrated teaching learning model.
4. to describe whether “the fun science” emerges or not in integrated teaching learning model.
5. to describe the more effective model of teaching learning sciences in the pre-service programs in order that the students are able to improve their skill of teaching.
6. to uncover students’ and lecturers’ perception of the primary school teacher education about the implementation of each models of teaching.

Research and development (R&D) approach is used to develop models of teaching in an integrated unit of instruction. Pretest-posttest design is used to determine the effectiveness of each integrated and separated models of teaching. Pretest-posttest control group design is used to determine the effectiveness between integrated and separated models of teaching. Students’ and lectures’ perception about the implementation of each models are described.
This research found out the followings:

1. Introducing the contents of primary sciences teaching which is not separated from the basic concepts of sciences is more effective than that of separated one.
2. The role of the D2P3 strategy indicated that: (a) Lecturers’ demonstrations give direct example about effective primary teaching and learning of sciences (b) Classroom discussion let the students to learn the contents, the scope, teaching materials, text-books, and to develop students’ competencies in analyzing teaching content in primary curriculum (c) Teaching preparation assignment gives the students the chance to develop the skill in preparing science teaching (d) Peer-teaching encourages the students to get their experiences as early as possible (e) Enrichment activities encourages the students to develop their skill to plan contextual teaching learning of sciences
3. “Transferring Theory into Practice” in integrated teaching learning of science gives the real impact in teaching.
4. Students’ knowledge of teaching contents and their basic concepts that they got from integrated teaching model are able to perform “the fun science” ; and it can be developed at schools.
5. Each of integrated models is more effective in improving students’ skill of primary science teaching than that of separated lecturers.
6. Followings are the perceptions of developed teaching models: (a) Students of integrated models perceived that D2P3 strategies have significance role to improve their skills of teaching primary sciences (b) Students of separated models perceived that lecture method is not enough to improve their skills of primary sciences teaching (c) Counterpart lecturers of integrated models recommended that the basic concept of science should be integrated in teaching learning processes; and, the credit semester unit of the Sciences Subject Matter should be revised (d) Counterpart lecturers of separated models questioned about the effectiveness of the D-II PGSD 1995 Curriculum in preparing the students to develop the skills of teaching learning of primary sciences.

The results of the research recommended that it needs to develop teaching material to support integrated models of teaching in the odd semester and to continue to observe the validity of the research whenever the subject of the research doing teaching practices.
Rahman
(Pendidikan Bahasa Indonesia) KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN MENULIS KALIMAT DENGAN MENGGUNAKAN GAMBAR DAN KARTU KATA

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang pengajarannya tampak agak terbengkalai pada tingkat sekolah dasar, namun keterampilan ini penting dalam peningkatan perkembangan literasi para murid. Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini yang berjudul “Keefektifan Model Pembelajaran Menulis Kalimat dengan Menggunakan Gambar dan Kartu Kata” dirancang untuk memperifikasi keefektifan model pembelajaran dengan membandingkan Model Pembelajaran Menulis Kalimat dengan Menggunakan Gambar (MPMKMG) yang diterapkan pada kelompok kuasi eksperimen dengan Model Pembelajaran Menulis Kalimat dengan Menggunakan Kartu Kata (MPMKMK) yang diterapkan pada kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok prates-pascates (the randomized pretest-posttest control group design), mengkaji sumber data 44 murid sekolah dasar kelas IV di Bandung tahun ajaran 1999/2000, serta menggunakan instrumen tes, angket, dan observasi untuk memperoleh data proses dan hasil belajar.
Penelitian ini mengungkap temuan 1) proses belajar-mengajar MPMKMG dan MPMKMK (a) meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir; (b) menerapkan model pembelajaran pemrosesan informasi; dan (c) memiliki skenario, orientasi, langkah-langkah, hubungan guru-murid, prinsip reaksi, sistem penunjang, penerapan, dan dampak instruksional; serta (d) memiliki kekhasan, keunggulan, dan kelemahan; 2) hasil belajar-mengajar MPMKMG dan MPMKMK memiliki (a) persamaan dalam dimensi (1) bentuk gamatikal, murid (50%) mampu membuat empat sampai dengan tujuh kalimat sempurna, seperti kalimat berstrukrur KSP, SPK, SP, dan SP, serta KSPOK, SPK, SP, SPK, SPK, KSPK, dan KSP; (2) ejaan murid (59%) mampu membuat kalimat dengan jumlah kesalahan penggunaan ejaan maksimal satu buah kesalahan, seperti kesalahan penulisan huruf besar dan suku kata (kami …, sera-ngan); serta (3) tulisan tangan dan kerapian seluruh tulisan murid (100%) terbaca; (b) perbedaan dalam dimensi (1) kualitas dan lingkup isi, murid mampu menulis empat gagasan (81,81% pada MPMKMG dan 54,55% pada MPMKMK); (2) organisasi dan tampilan isi, murid mampu menulis empat uraian gagasan (81,81% pada MPMKMG dan 54,55% pada MPMKMK); serta (3) gaya dan ketepatan, murid mampu menulis frasa bervariasai panjang (84,64% pada MPMKMG dan 63,64% pada MPMKMK), seperti frasa yang tidak punya, tidak akan bisa menelepon, dengan keluarga kami, yang sangat jauh, dan bagi kehidupan kami.
Hasil uji t membuktikan bahwa dimensi kualitas dan lingkup isi thitung (2,18) > ttabel (2,07) pada p < 0,5 dalam df = 21, berarti ada perbedaan yang signifikan antara pascates MPMKMG dengan pascates MPMKMK dalam dimensi kualitas dan lingkup isi; dimensi organisasi dan tampilan isi thitung (2,16) > ttabel (2,07) pada p < 0,5 dalam df = 21, berarti ada perbedaan yang signifikan antara pascates MPMKMG dengan pascates MPMKMK dalam dimensi organisasi dan tampilan isi; dan dimensi gaya dan ketepatan thitung (6,53) > ttabel (2,07) pada p < 0,5 dalam df = 21, berarti ada perbedaan yang signifikan antara pascates MPMKMG dengan pascates MPMKMK dalam dimensi gaya dan ketepatan. Berdasarkan temuan penelitian disarankan 1) dalam usaha membantu memecahkan masalah menulis, MPMKMG2 hendaknya digunakan; 2) pihak-pihak yang terkait hendaknya memperkenalkan MPMKMG2 sebagai model alternatif dalam mengajarkan menulis kalimat; 3) penelitian ini masih terbatas dalam lingkup dan kedalaman hendaknya ada penelitian yang lebih lanjut dalam bidang ini. Tita Meirina Djuwita
(Administrasi Pendidikan) PENGARUH STRATEGI PENGEMBANGAN DOSEN PERGURUAN TINGGI DAN MOTIF BERPRESTASI TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJANYA
(Suatu Studi Pada Tenaga Edukatif di Lingkungan Kopertis Wilayah IV Jawa Barat)

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui fenomena-fenomena dan gambaran berbagai aspek yang berkaitan dengan strategi dosen dan motif berprestasi, dan bertujuan untuk menjelaskan seberapa besar pengaruhnya terhadap produktivitas kerja dosen di Kopertis Wilayah IV strategi pengembangan dosen ditelaah melalui misi, tujuan, sasaran, nilai. Perencanaan dan analisis lingkungan, implementasi dan evaluasi, motif berprestasi ditelaah melalui dorongan dan aktivitas memperoleh hasil, antisipasi terhadap pencapaian, tujuan, kemampuan menanggulangi hambatan, respon terhadap hasil yang dicapai. Sedangkan produktivitas kerja dosen ditelaah bukan hanya sekedar memenuhi kualifikasi pekerjaan, tetapi juga bermotivasi tinggi, mempunyai orientasi pekerjaan yang positif, dewasa, dapat bergaul dengan efektif.
Metode penelitian yang digunakan adalah eksplanatory survey dan data penelitian ini diungkap dengan menggunakan kuesioner sebagai teknik utama dan dilengkapi dengan teknik interview, sedangkan untuk data sekunder ditelusuri melalui peraturan yang berlaku, laporan tahunan serta arsip dari dokumen lainnya. Responden penelitian adalah dosen kopertis wilayah IV yang diambil melalui sampel untuk mewakili populasi sebanyak 123 orang dosen dari berbagai perguruan tinggi swasta di lingkungan kopertis wilayah IV dan diambil secara Stratified Random Sampling yang dilakukan berdasarkan golongan pegawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan dosen dan motif berprestasi tergolong ke dalam kategori cukup tinggi. Hasil pengujian statistik persubvariabel dan strategi pengembangan dosen yaitu sasaran, implementasi dan evaluasi berpengaruh sebesar 50,9% terhadap produktivitas kerja. Sedangkan subvariabel dari motif berprestasi yaitu dorongan dan aktivitas mencapai hasil berpengaruh sebesar 54,5% terhadap produktivitas kerja. Adapun strategi pengembangan dosen secara total berpengaruh positif sebesar 24,96% terhadap produktivitas kerja, motif berprestasi berpengaruh positif sebesar 42,96% terhadap produktivitas kerja. Dengan demikian strategi pengembangan dosen dan motif berprestasi secara bersama berpengaruh positif terhadap produktivitas dosen kopertis wilayah IV, sebesar 67,92%.
Berdasarkan hasil temuan di atas dapat direkomendasikan bahwa Pimpinan perguruan tinggi swasta dan koordinator Kopertis Wilayah IV akan meningkatkan produktivitas kerja dosen dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat hendaknya memberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan formal (S2, S3) dan pelatihan- pelatihan yang sesuai bidang keahliannya, meningkatkan kebutuhan motif berprestasi serta adanya pengembangan eksternal untuk melihat kebutuhan pembangunan masyarakat. YOPINES ANSEN
(Administrasi Pendidikan) PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA DALAM PENINGKATKAN KINERJA PERUSAHAAN MENGHADAPI ERA PERSAINGAN BEBAS
Studi Kasus Pengaruh Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Kinerja Perusahaan di Kantor Daerah Pelayanan Telekomunikasi Bandung

Permasalahan pokok di PT Telkom Kantor Daerah Pelayanan Telekomunikasi Bandung, dalam menghadapi persaingan masih rendahnya kinerja individu maupun perusahaan. Rendahnya kinerja disebabkan karena faktor lingkungan kerja, kepemimpinan, motivasi kerja, budaya perusahaan, kepuasan kerja, pengembangan pengetahuan, pengembangan ketrampilan, pengembangan sikap.
Untuk dapat meningkatkan kinerja, maka perlu dilakukan penelitian terhadap faktor di atas. Metode penelitian menggunakan “Desain Kausal”, jumlah populasi 1295 karyawan, dan sampel 297 karyawan, tingkat kesalahan 5%. Teknik pengumpulan data, wawancara, kuesioner, observasi, dan studi kepustakaan. Sedangkan teknik analisis menggunakan Path Analysis dan Analisis Faktor. Adapun instrumen penelitian menggunakan Skala Linkert.
Kesimpulan : Pertama, perusahaan membuka diri terhadap perubahan, menyusun strategi dan kebijakan selaras dengan perubahan lingkungan bisnis. Kedua, pembinaan berbasis kompetensi karyawan akan mampu mengerjakan tugas dan pekerjaan sesuai standar kinerja. Ketiga, manajemen harus memberikan contoh keteladanan dalam sikap dan tindak. Keempat, perusahaan harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen. Kelima, karyawan harus memiliki motivasi dan rasa memiliki. Keenam, perusahaan memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi. Ketujuh, pimpinan memberikan pengarahan dalam mencapai tujuan organisasi. Kedelapan, lingkungan kerja yang baik berdampak pada pencapaian hasil yang optimal. Kesembilan, keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan akan merasa memiliki. Kesepuluh, penyempurnaan mutu secara berkesinambungan. Kesebelas, pengaruh variabel Potensi Kerja, Harapan Kerja, Pengembangan Sikap, Kemampuan Kerja, Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Individu 35,20%. Keduabelas, pengaruh variabel Potensi Kerja, Pengembangan Sikap, Kemampuan Kerja, Lingkungan Kerja, terhadap Kinerja Perusahaan 61,60%. Ketigabelas, pengaruh variabel Kinerja Individu terhadap Kinerja Perusahaan 32,79%.
Rekomendasi : Pertama disarankan untuk meningkatkan kemampuan karyawan yang tinggi perlu pengembangan SDM melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Kedua, disarankan adanya komitmen dari pihak manajemen untuk keberhasilan pengembangan SDM. Ketiga, perusahaan harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan agar tidak pindah. Keempat, diperlukan diimplementasikan Total Quality Manajement dalam pengelolaan perusahaan. Kelima, harus memiliki sertifikat ISO Series 9000. Keenam, perlu diimplementasikan budaya perusahaan. Ketujuh, pendidikan dan pelatihan perlu dilakukan melalui pendekatan “rencana belajar strategik”. Kedelapan, pengembangan SDM melalui pendekatan berbasis kompetensi. Kesembilan, melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja. Kesepuluh, pertimbangan efisiensi dan efektivitas pendidikan dan pelatihan menggunakan pendidikan jarak jauh, multimedia dan modul. Wan A. Hirawan
(Administrasi Pendidikan) EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN TINGKAT IV DALAM MENINGKATKAN KINERJA PEJABAT STRUKTURAL ESELON-4 DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI

Implementasi kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV (Diklatpim IV) tidak terlepas kontekstualisasinya dengan kebijakan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Memasuki era otonomi, reformasi, dan globalisasi semakin diperlukan kompetensi aparatur yang tinggi agar mampu berkinerja tinggi dalam melaksanakan fungsi dan tugas pokoknya. Masalah efektivitas proses pembelajaran dan kinerja pejabat struktural eselon-4 merupakan isu-isu sentral yang berkembang secara aktual. Masalah penelitian ini adalah sejauhmana hubungan efektivitas proses pembelajaran dengan peningkatan kinerja pejabat struktural eselon-4. Tujuan penelitian adalah melakukan analisis terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran, dan tingkat hubungan antara proses pembelajaran dengan peningkatan kinerja pejabat struktural eselon-4 .
Landasan teoritik penelitian adalah teori-teori kebijakan, khususnya teori implementasi kebijakan yang dikemukakan William N. Dunn, sedangkan teori pembelajaran menggunakan konsep E. De Corte disamping teori-teori pembelajaran lainnya. Pengukuran kinerja didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 893.3/268/Sj yang dilengkapi oleh teori-teori kinerja yang lainnya.
Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan korelasional dan teknik analisis induktif yang dilengkapi analisis deskriptif. Metode statistik yang digunakan adalah statistik regresi, korelasi product moment, korelasi parsial, dan chi kuadrat. Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi penyebaran kuesioner, wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.
Kajian induktif memperlihatkan bahwa efektivitas proses pembelajaran dipengaruhi oleh ketepatan bahan ajar, penggunaan metode, kemampuan pengajar, kesiapan peserta, dan kemampuan penyelenggara dengan persamaan regresi linier ganda Y1 = 0,197X2+ 0,461X3 + 0,201X4, serta koefisien korelasi Pearson r = 0,756 dan R2 = 0,572. Hubungan antara efektivitas proses pembelajaran dengan peningkatan kinerja dinyatakan dalam persamaan regresi Y2 =1,481 +0,591Y1 serta koefisien korelasi Pearson r = 0,731 dan R2 = 0,535. Anilisis secara deskriptif tingkat efektivitas proses pembelajaran 74,74 dan peningkatan kinerja 74,25 dari skor ideal yang diharapkan. Variabel input diklat baru berkontribusi 57,20 % terhadap efektivitas proses pembelajaran, dan efektivitas proses pembelajaran baru memberikan kontribusi 53,50% terhadap peningkatan kinerja. Persamaan regresi memperlihatkan bahwa setiap peningkatan per satuan efektivitas proses pembelajaran akan menyebabkan peningkatan kinerja sebesar 0,591. Untuk memperkuat hubungan-hubungan tersebut diusulkan penerapan Model Hipotetik Diklatpim IV Berorientasi Kinerja.
Secara umum dapat disimpulkan, bahwa implementasi kebijakan Diklatpim IV belum dapat dilaksanakan secara efektif, sehingga belum dapat memberikan pengaruh yang optimal terhadap peningkatan kinerja pejabat struktural eselon-4 . Perbaikan-perbaikan pada tahap inputs, process, outputs, dan outcomes perlu segera dilakukan pemerintah dengan mempertimbangkan penerapan Diklatpim IV berorientasi kinerja.

Sumber : http://pages-yourfavorite.com/ppsupi/abstraksi.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tulis Komentar Anda demi Perbaikan dan Kesempurnaan Blogs ini