14 Juni 2010

FILSAFAT KELUARGA

FILSAFAT KELUARGA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendekatan filosofis terhadap pendidikan adalah suatu pende¬katan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pengetahuan atau teon pendidikan yang dihasilkan dengan pendekatan filosofi disebut filsafat pendidikan. Menurut Henderson (1959), filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan/diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Cara kerja dan hasil-hasil filsafat dapat dipergunakan untuk membantu memecahkan masalah dalam hidup dan kehidupan, dimana pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting dari kehidupan manusia. Pendidikan membutuhkan filsafat, karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman.
Dalam pendidikan akan muncul masalah yang lebih luas, kompleks, dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman indrawi maupun fakta-fakta faktual yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh sains pendidikan (science of education). Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup manusia. Nilai dan tujuan hidup memang nerupakan suatu fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan uenggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan iiperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan pandangan hidup individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memahami tujuan akhirnya, sehingga hanya tujuanlah yang dapat ditentukan terlebih dahulu dalam pendidikan.
Tujuan pendidikan tersebut perlu dipahami dalam kerangka hubungannya dengan tujuan hidup tersebut, baik yang berkaitan dengan tujuan hidup individu maupun kelompok. Si terdidik maupun pendidik secara pribadi memiliki tujuan dan pandangan hidup sendiri, dan sebagai masyarakat atau warga negara memiliki tujuan hidup bersama.
1. Karakteristik pedekatan filosofi
Karakteristik pedekatan filosofi, seperti halnya pendekatan sains, dapat dilihat dari objek pengkajian, tujuan pengkajian, dan metode kerja pengkajian. Objek pengkajian pendidikan dengan menggunakan pendekatan filosofi, adalah semua aspek pendidikan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Seluruh aspek pendidikan seperti tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, pendidik, anak didik, keluarga, masyarakat merupakan kajian yang komprehensif dari pengkajian filosofi. Pengkajian seperti ini disebut pengkajian sinqpsis, yaitu suatu pengkajian yang bersifat merangkum atau mencakup semua aspek pendidikan.
Tujuan akhir suatu pengkajian filosofi dalam pendidikan adalah merumuskan apa dan bagaimana seharusnya tentang pendidikan.
Kajian filosofi berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan, bagaimana seharusnya tujuan pendidikan, bagaimana seharusnya kurikulum dirumuskan/disusun.
Pengkajian seperti itu disebut pengkajian normatif karena berkaitan dengan norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia, sehingga pengkajian tersebut hams sampai pada suatu rumusan, apa yang seharusnya terjadi dalam pendidikan yang berlangsung daiam kehidupan.
Metode pengkajian filosofi adalah melalui kajian rasional yang mendalam tentang pendidikan dengan menggunakan semua pengalaman manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu pengalaman kemanusiaan seseorang dapat diterapkan dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.
2. Analitik Positivistik logis
Model analitik positivistik logis dikenal dengan neo positivisme dikembangkan oleh Bertrand Rnssel yang berakar pada dan meneruskan filsafat positivisme dan Comte yang merupakan peletak dasar pendekatan kuantitatif dalam pengembangan ilmu (science), dengan meletakkan matematika sebagai dasar bagi semua cabang ilmu. Di atas matematika secara berurutan m mnjukkan astronomi, fisika, lamia, biologi, dan fisika sosial atau sosiologi. Klasifikasi ala Comte tersebut dewasa ini mendukung sikap pandang yang meyakim bahwa masyarakat mdustn sebagai tolok ukur bagi tercapamya modermsasi hams disiapkan melalm penguasaan basic science yaitu matematika, krmia, fisika, dan biologi dengan penye-diaan dana dan fasilitas dalam skaia pnontas utama.
Menurut Kunto Wibisono (1997) Positivisme merupakan suatu model dalam pengcmbdjigcn ilmu pengetahuan (knowledge) yang di dalam langkah kerjanya menempnh jalan melalm observasL eksperimentasi, dan kompaxasi sebagaimana diterapkan dalam ilmu keaiaman, dan model ini dikembangkan dalam pengembangan ilmu komunikasi, dan eksperimentasi dengan derajat optimal dengan maksud agai sejauh mungkin dapat melakukan prediksi dengan derajat ketepatan yang optimal pula
Dengan demikian keberhasilan dan kebenaran ilmiah diukur secaia positivistik, dalam arti yang benar dan yang nyata haruslah konknt, eksak, akurat, dan memberi kemanfaatan. Positivisme memiliki pengaruh yang kuat pada metode Ilmiah. Konsep-konsep positivisme menyumbangkan pendekatan baru dalam penemuan kebenaran ilmiah yang melahirkan rovolusi paradigma. Prinsip dan prosedur dalam ilmu alam dan ilmu sosial yang berasal dari asumsi John Stuart Mill (1843), terus hidup sampai sekarang sebagai paradigma metodologis. Mill ndak membedakan metodologi ilmu sosial dan ilmu kealaman.
Paradigma Positivisme menunjukkan lima aksioma (Moleong: dalam Hadi Sutarmanto, 1997):
1. Aksioma 1 : Hakekat kenyataan (Ontologi)
Terdapat kenyataan yang sifatnya tunggal nyata, terbagi dalam vanabel bebas, dan proses yang dapat diteliti secara terpisah dan yang lairmya. Inkurn ini dapat dikonvergen-sikan sehmgga kenyataan pada akhirnya dapat diramalkan
2. Aksioma 2: Hubungan antar pencan tahu dan yang tahu
Pencari tahu dan obyek inkuiri adalah bebas, pencari tahu yang kemudian membentuk dualisme yang pilah
3. Aksioma 3: Kemungkinan Menggeneralisasi
Tujuan penelitian adalah mengembangkan tubuh pengeta¬huan (body of knowledge) yang nomotetik dalam bentuk generalisasi, yaitu pemyataan benar yang bebas dan waktu dan konteks
4. Aksioma 4: Kemungkinan hubungan kausalitas
Sesuatu tindakan dapat diterangkan sebagai hasil atau alamat dari suatu sebab sesunguhnya yang mendahului akibat tersebut secara sementara
5. Aksioma 5: Peranan nilai dalam inkurn (aksiologi)
Penelitian adaiah bebas nilai dan dapat dijamrn demikian oleh kebaikan pelaksanaan metoda obyektif.
Aksioma di atas menunjukkan bahwa paradigma positivistik bersiial atomistik, dapat mencapai generalisasi yang dignnakan untuk meramalkan/ memprediksi, dan juga sifatnya deterministik yaitu untuk menuju kepada kebenaran dengan menguji hipotesis.
Positivisme kurang berhasil menggarap formulasi empins dan konseptual dan berbagai bidang ilmu (terutama ilmu sosial dan humaniora). Positivisme bermuara paling sedikit pada lima asumsi yang sulit untuk dipertahankan
Asumsi ontologis tentang terjadinya realitas tunggal yang dapat dipecah-pecah dan dapat diselidiki secara terpisah Asumsi epistemologis tentang kemungkinan terpi-sahnya pengamat dan yang diamati
Asumsi tentang keterpisahan observasi secara tem¬poral dan kohtekstuaL sehingga yang benar pada suatu waktu dan tempat, benar juga pada waktu dan tempat yang lain
Asumsi hubungan kausal yang linier, yang satu mempakan sebab dan yang lain merupakan akibat
Asumsi aksiologis tentang bebas nilai, yakni metodologi menjamin bahwa hasil-hasil suatu penelitian secara esensial bebas dari pengaruh system nilai.
Model apapun dalam pendekatan filosofis semuanya penting. Kebanyakan ahli pikir sepakat bahwa semua model di atas bermanfaat dalam mengkaji segala sesuatu. Spekulatif tanpa analitik hanya merupakan cita-cita yang muluk (utopis), tidak relevan dengan dunia realitas. Sebaliknya analitik tanpa spekulatif akan keciL kerdil, steril tidak akan memiliki makna yang hakiki. Spekulatif dan analitik tanpa presknptif akan kering dan nilai, yang merupakan inti dalam kehi-dupan manusia.
B. MISI FILSAFAT
Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Melalui pengujian yang kntis, filosof mencoba mengevaluasi inforrnasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematisasi, dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang la ketahui dan la pikirkan.
Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus sampai manusia meranggal dunia, sepanjang la mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena ltu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1) Pendidikan dalam keluarga
2) Keluarga mempakan sekelompok manusia yang terdiri dan :'ayah, ibu) dan anak-anak yang belum kawin {children). Jadi, keluarga sebagai lernbaga pendidikan hanya terdiri dan crane tua (avail, ibu'i yang akan bertindak sebagai pendidik, dan anak-anak yang belum berkeluarga sebagai peserta didik.
Tingkah laku anak pada waktu lahir ke dunia belum bersifat manusiawi sesungguhnya. Tingkah laku anak akan bersifat manusiawi hanya dengan melalui mteraksi sosial. Keluarga merupakan suam lernbaga sosiai di mana si anak mengadakan proses sosialisasi vane pertama dalam kehidupaiuiya. Dalam tahun-tahun pertama pada umumnya dalam keluargalah proses humanisasi berlangsung. Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama bagi anak untuk mengadakan interaksi sosial.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, keluarga merupakan lernbaga pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan dalam keluarga berlangsung secara wajar dan informal, serta melalui media permainan. Keluarga merupakan dunia anak yang pertama, yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadap hidupnya. Dalam keluarga lambat-laun anak membentuk konsepsi tentang pribadinya
tidak hanya mengidentifikasikan dirinya dengan orang tuanya, melainkan juga mengidenufikasikan dirinya dengan kehidupan masya-rakat dan alam sekitar.
Orang tua sebagai pendidik betul-betul merupakan peletak dasar kepnbadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan bermanfaat atau berperan terhadap pengalaman-pengalaman selanjutnya yang datang kemudian. Dalam ajaran Islam terdapat suatu pandangan yang mengemukakan bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan "fitrah" Anak membawa potensi untuk berkembang menjadi manusia Vang sejati, orang tualah yang paling bertanggung jawab untuk mengem-bangkan dan mengarahkan serta membimbing anak tersebut.
3) Pendidikan di sekolah
Usaha pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dan pendidikan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga tempat di mana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehrngga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belaiar apa yang ada di dalam kehidupan, atau dengan kata lain, sekolah hams memiliki kehidupan masyarakat sekelilingnya. Sekolah tidak boleh dipisahkan dan kehidupan dan keburuhan masyarakat sesuai dengan perkem-bangan budayanya.
Dalam kehidupan modern, seperti sekarang rm, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak tidak memungkmkan akan dapat dilayam oleh keluarga (orang tua). Maten yang dibenkan di sekolah ueuiUDungan langsung dengan perkembangan pnbadi anak, bensikan niiai, nonna dan agama, berhubungan laiigsung dengan pengem-bangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentu yang langsung dapat drrasakan dalam pengisian tenaga kerja
4) Pendidikan di masyarakat
Pendidikan di masyarakat adalah pendidikan yang diseleng¬garakan di luar keluarga dan sekolah. Pendidikan di sekolah diper¬lukan karena keluarga sudah tidak mampu memberrkan pengetahuan dan kemampuan-kemampuan kepada anak sesuai dengan tuntutan pada masa modern ini. Namun, kenyataan perkembangan kehidupan manusia lebih cepat dari yang diperkirakan, sehingga sekolah pun
sudah tidak mampu lagi dapat memenuhi tuntutan tersebut. Pendidikan di masyarakat merupakan suatu keharusan akan kehadirannya, terutama dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis, yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat.
Keburuhan terhadap pendidikan di masyarakat beraneka ragam corak dan bentuknya. Menurut Philip H. Coombs (1973), bentuk pendidikan di masyarakat berlangsung mulai dari penitipan bayi dan penitipan anak sebelum sekolah, program persamaan bagi mereka yang tidak bersekolah atau putus sekolah, pemberantasan buta huruf, kepramukaan, kelompok pemuda tarn, perkumpulan olahraga dan rekreasi, kursus-kursus keterampilan di bidang pertanian dan pertukangan serta yang memenuhi semua keburuhan hidup, dan berlangsung di luar struktur pendidikan sekolah.
Dan uraian di atas, jelaslah baliwa manusia selama ludupnya membutuhkan pendidikan. Hal ini terjadi karena perkembangan dan manusia itu sendin. Apabila tidak memperoleh pelayanan, perkem¬bangan tersebut tidak akan mencapai sasaran yang optimal.
b. Impikasi pendidikan sepanjang hayat
Impilikasi konsep pendidikan sepanjang hayat dapat dilihat dan beberapa aspek, diantranya yang akan penulis kemukakan yaitu yang berkaitan dengan "cara belajar" dan "mode! pendidikan".
1) Cora belajar
Dalam belajar dibutuhkan standar pendidikan yang lebih fleksibeL lebih drnamis, dan lebih terbuka terhadap durua dan lingkukan sekitamya. Dalam proses pendidikan harus lebih menekankan pembentuk.m individu danpada hanya belajar semata. Guru harus mampu membangkitkan mouvasi dan kemauan yang kuat sena keingmtahuan dalam din siswa. Paio siswa harus belajar bekerja, belajar menemukan dan mencipta, dan mengenal teon serta fakta-fakta. Para siswa harus dipersiapkan untuk belajar sendiri dan berlatih sendiri.
Dalam belajar harus dikembangkan tiga prinsip yang mencakup "self- management", "self-evaluation", dan "self-judgement". Para siswa hams mampu membimbing sendiri, menilai kemampuan, kemajuan serta kegagalannya sendiri. Dengan hal-hal tersebut, diharapkan apabila nanti teiah dewasa, la akan mampu membuat pilihan serta keputusan sendin secara rasional.
Dengan konsep belajar di atas, guru bukan hanya sekedar pengajar, melainkan harus menjadi pendorong dan fasilitator. Kelas-kelas tradisional yang hanya mengandalkan ceramah, harus sudah ditinggalkan. Kelas harus sudah diganti dengan kelompok-kelompok belajar di mana para siswa dapat bekerja bersama-sama, dan juga bekerja bersama-sama. Siswa tidak lagi dibebani tugas menghapaL melainkan juga harus mampu menggunakan seluruh media rnformasi. dari mulai perpustakaan, radio, televisi, sampai pada pemanfaatan komputer. Mereka harus belajar bersama-sama dengan teman dan gurunya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
2) Model pendidikan
Menurut Hummel (1977), ada beberapa bentuk pendidikan yang sesuai dengan konsep pendidikan sepanjang hayat, yaitu : 1) pendidikan sebelum sekolah, 2) pendidikan dasar, 3) pendidikan jabatan, dan 4) pendidikan orang dewasa.
a) Pendidikan sebelum sekolah
Pendidikan sebelum sekolah menduduki tempat yang penting dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan pada penode sebelum sekolah menentukan di dalam sistem pendidikan sepanjang hayat, dan merupakan tempat yang paling efektif dalam pembentukan kepnbadian anak yang demokratis.
Yang dikembangkan dalam penode mi adalah kebebasan psikologis {psychological independence/ dan sosiaksasi ^mak (socializatiaon of the child), yang dibiasakan dengan permainan, pergaulan dengan teman sebayanya, serta kegiatan-kegiatan kelompk.
b) Pendidikan dasar
Setelah penode pendidikan sebelum sekolah, dilanjutkan dengan pendidikan dasar, yang disebut juga "basic course of study" Fase mi, kalau dibandingkan dengan struktur pendidikan di negara maju, bersesuaian dengan fase kewajiban belajar, yaitu antara usia 6-16 tahun, yang mencakup sekolah dasar dan sekolah menengah.
Pada fase mi diberikan pengetahuan yang esensial sebagai dasar dan bekal pendidikan umum (pendidikan moral dan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan artistik, dan pendidikan sosial), penguasaan bahasa tertentu (nasional dan asing), matematika, dasar-dasar metode dan teknik berpikir ilmiah.
UNESCO DAN UNICEF (HummeL 1977 : 139) memberikan definisi pendidikan dasar sebagai berikut:
Basic education is the minimum provision of knowledge, attitudes, values and experimences which should be made for every individual and which should be common to all. It should be aimed at enabling each individual to develop his or her potentialities, creativity, and critical mind both for her own fulfilment and happiness and for serving as a useful citizen and procedure for the development of the community to which he or she belongs... basic education should enable young people : a) to participate effectivelly through their work in the economic development of their country; b) to contribute as citizens to national unity on the political cultural and social levels through service to their community; to develop their own personally.
Jadi, pendidikan dasar merupakan syarat minimum dan pengetahuan, sikap, nilai, dan pengalaman-pengalaman yang harus dimiliki setiap mdividu. Pendidikan dasar harus mampu mendorong individu untuk mengembangkan potensialitasnya, kreativitasnya, pikiran kntLsnya, yang akan bermanfaat bagi dirinya maupun bagi bangsanya.
c) Pendidikan Jabatan
Pendidikan jabatan diselenggarakan pada tutgkat akhir pendidikan dasar. Pada hngkat tersebui disediakan dua pilihan. Pertama. pilihan yang membavva siswa ke tmgkaT pendidikan yang lebih tinggi. Kedua, pilihan ke arah latihan jabatan (vocational Training), yaitu pendidikan yang memben bekal keterampilan untok mempersiapkan pekerjaan
Dalam mengembangkan pendidikan j.iknan ham> dilundan suaru kekhususan yang mendeul, Kerens udak mungkm sekolah mampu meramalkan keburuhan individu di niasa yang akan datang dalam hubungannya dengan pekerjaan. Program pendidikan harus memberikan pengetahuan kecerdasan prakus dan mengembangkan sikap serta pengetahuan yang akan menolong individu mengingatkan kembali pelajaran yang telah dipelajannya.
d) Pendidikan orang dewasa
Pendidikan orang dewasa merupakan kunci dari sistem pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan orang dewasa harus dikembangkan secara maksimaL dan berisikan program "remedial" dan progTam "penyegaran", seriingga akan dapat rnenolong mereka dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi pekerjaan yang baru, melibatkan diri dalani kegiatan-kegiatan budava, dan memanfaatkan waktu luang seefesien mungkin.
Ciri khas dan pendidikan sepanjang hayat tidak mengenal istirahat, melainkan berlangsimg secara terus menems secara terpadu, antara pendidikan sebelum sekolah, dengan pendidikan sekolah, dan pendidikan setelah sekolah (termasuk pendidikan orang dewasa). Pendidikan sekolah harus membuka jalan ke arah dunia dewasa dan mempersiapkan anak-anak muda ke kehidupan masa dewasanya.. Dalam hal ini, pendidikan akan merupakan bagian "intrinsik" dari dirinya.
6. Pendidikan hanya untuk Manusia
Untuk membahas persoalan ini, kita perlu mengajukan perta-nyaan, "Apakah mungkin hewan dapat memperoleh pendidikan?"
Dan pertanyaan dasar tersebut dapat dikembangkan sejumlah pertanyaan sebagai berikut:
1) Apakah hewan dapat memiliki, memperbaiki, dan'atau mengem-bangkan hati nurani, perasaan, nilai-nilai, atau norma-norma susila?
2) Apakah hewan dapat memiliki, memperbaiki, dan'atau mengem-bangkan pengetahuan?
3) Apakali hewan dapat memiliki. memperbaiki. dan'atau mengem-banekan keterampilan?
4) Dan pengalaman yang pemah dialami manusia, dapat dicatat beberapa peristiwa penlaku hewan yang buas terhadap manusia. oeekor uanmau yang biasa berdemorrtrasi dalam pertunjukkan sirkus, begitu akrab dengan majikannya atau pawangnya, pada satu saat dengan tidak diduga hanmau tersebut menerkam majikannya atau pawangnya yang setiap saat bercanda, membelainya dengan rasa kasih sayang. Seekor gajah di kebun bmatang diben makan setiap saat oleh pengasuhnya, ia jinak dan begitu akrab bercanda dengan pengasuhnya, tetapi secara tiba-tiba pada suatu saat gajah tersebut membelit penga¬suhnya dengan belalainya, kemudian ia membanting-bantingkannya ke lantai beton, sehingga tidak berkutik.
5) Kedua contoh tersebut di atas betul-betul pemah terjadi. Jelaslah bahwa perilaku harimau dan gajah tersebut hanya didasarkan atas insting atau nalurinya. Hanmau dan gajah tersebut ,tidak dapat membedakan mana perbuatan baik dan tidak baik, mana perbuatan bermoral dan mana perbuatan tidak bermoral. Mereka tidak memiliki hati nurani, tidak mampu memiliki nilai-nilai, tidak memiliki perasaan. Mereka memang tidak akan dapat memiliki perasaan, bagaimanapun manusia berusaha menyampaikannya pada hewan-hewan tersebut.
Beberapa ekor binatang mungkin dapat kita latih untuk mengenal tanda-tanda (signal-signal) tertentu, misainya kita melihat simpanse, dengan bunyi peluit panjang harus melompat tinggi, dengan bunyi peluit pendek satu kali harus jongkok, apabila dinyalakan lampu hijau harus berlari, dan sebagainya. Gerakan-gerakan yang dilakukan simpanse tersebut terjadi karena dilatih secara terus-men?rus. Gerakan-gerakan tersebut hanyalah gerakan yang terjadi secara mekanis, secara otomatis saja. Kita sukar untuk berpendapat bahwa gerakan yang dilakukan simpanse tersebut merupakan hasil proses berpikrr. Hasil berpikir secara intelektual mehbatkan simbol-srmbol. Oleh karena itu, bagi beberapa jenis hewan dapat kita latih untuk mengenal signal-signal (tanda-tanda) melalui latihan secara terus-menerus, tetapi hewan tidak akan mampu. memahami srmbol-simboL seperti bahasa.
Mungkin hewan dapat mengerti sejumlah kata-kata, tetapi hal itu hanyalah merupakan signal belaka, tidak sampai pada bahasa sebagai simbol.
Manusia dengan hewan memiliki beberapa persamaan dalam struktur fisik dan penlakunya. Secara fisik, manusia dengan hewan, khususnya hewan menyusui dan bertulang belakang, memiliki perlengkapan tubuh secara prinsipil tidak ada perbedaan. Penlaku hewan seluruhnya didasarkan atas insting (insting lapar, insting seks, insting mempertahankan din, dan sebagainya) Begitu pula pada prrnsipnya manusia memiliki penlaku yang didasarkan atas mstrng. Insting pada hewan berlaku selama hidupnya, sedangkan pada manusia peranan msting akan diganti oleh kemampuan akal budrnya yang sama sekab adak duuiiiki oleh hewan. Manusia dan hewan sama-sama memiliki kesadaran indera, di mana manusia dan hewan dapat mengamati lingkungan karena dilengkapi oleh alat indera.
Pendidikan hanya akan menyentuh penlaku manusiawi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Manusia memiliki kemauan untuk menguasai hawa nafsunya;
2) Manusia memiliki kesadaran intelektual dan seni. Manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan teknologL, sehingga menjadikan ia sebagai makhluk berbudaya;
3) Manusia memiliki kesadaran diii. Manusia dapat menyadan sifat-sifat yang ada pada dinnya. Manusia dapat mengadakan instrospeksi,
4) Manusia adalah makhluk sosial. la membutuhkan orang lain untuk hidup bersama-sama, berorganisasi, dan bemegara;
5) Manusia memiliki bahasa simbolis, baik secara tertulis maupun secara lisan;
6) Manusia dapat menyadan nilai-nilai (etika maupun estetika). Manusia dapat berbuat sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Manusia memiliki kata hati atau hati nuram ;
7) Manusia dapat berkomumkasi dengan Tuhan Yang Mahakuasa, sebagai pencipta alam semesta. Manusia dapat menghayati kehidupan beragama, yang merupakan nilai yang paling tmggi dalam kehidupan manusia
Ciri-ciri tersebut di atas sama sekali tidak dinuliki oleh hewan Dengan cin-cin ltulah manusia dapat dididik dan dapat memperbaiki penlakunya dalam suatu bentuk pnbadi yang utuh.
Dan uraian di atas jelaslah, bahwa hewan tidak dapat dididik dan tidak memungkinkan untuk menenma pendidikan, sehingga tidak mungkin dapat dilibatkan dalam proses pendidikan. Hanya manusialah yang dapat dididik dan memungkinkan dapat menenma pendidikan. karena manusia dilengkapi dengan akal budi
Selanjutnya muncul pertanyaan yang perlu memperoleh jawaban secara tuntas. Mengapa manusia periu dididiK ? Ada beberapa asumsi vans memungkinkan manusia hams dididik dan memperoleh
Manusia dilahirkan dalam keadaan ridak berdava. Manusia begitu lahir ke dunia, perlu mendapatkan uluxan orana lain untuk dapat melangsungkan hidup dan kehiduparmya;
Manusia lahir udak langsung dewasa. Untuk sampai pada kedewasan yang merupakan tujuan pendidikan dalam arti khusus, memerlukan waktu lama. Pada manusia pnmitif mungkui proses pencapaian kedewasaan tersebut akan lebih pendek dibandingkan dengan manusia modern dewasa ini. Pada manusia primitif cukup dengan meNcapai kedewasaan secara konvensionaL di mana apabila seseorang sudah memiliki keterampilan untuk hidup, khususnya untuk hidup berkeluarga, seperti dapat berburu, dapat bercocok tanam, mengenal nilai-nilai atau norma-norma hidup bermasyarakat, sudah dapat dikatakan dewasa. Dilihat dan segi usia, misalnya usia 12-15 tahun, pada masyarakat pnmitif audah dapat melangsungkan hidup berkeluarga. Pada masyarakat modern tuntutan kedewasaan lebih kompleks, sesuai dengan makm kompleksnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan juga makin kompleksnya sistem nilai.
Untuk mengarungi kehidupan yang dewasa, manusia perlu dipersiapkan, lebih-lebih pada masyarakat modern. Bekal tersebut dapat diperoleh dengan pendidikan, di mana orang tua atau generasi tua akan mewariskan pengetahuan, nilai-nilai, serta keterampilannya kepada anak-anaknya atau pada generasi berikutnya;
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. la tidak akan menjadi manusia seandainya tidak hidup bersama dengan manusia larnnya (ingat cerita manusia sengala!). Lain halnya dengan hewan, di mana pun hewan dibesarkan, tetap akan memiliki perilaku hewan. Seekor kucing yang dibesarkan dalam lmgkungan anjing akan tetap berperilaku kucing, tidak akan berperilaku aniing, karena setiap jenis hewan sudah dilengkapi dengan rnsting tertenru yang pasti dan seragam, yang berbeda antara jenis hewan yang satu dengan jenis hewan lainnya.
Manusia merupakan makhluk yang dapat dididik, memung¬kinkan untuk memperoleh pendidikan. Manusia merupakan makhluk yang hams dididik, karena manusia lahir dalam keadaan tidak berdava, lahir tidak langsung dewasa. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya.
C. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat pendidikan menururt Al-Syaibany (1979:30) adalah :
Pelaksanaan pandangan fahqfah dan kaidah falsalah dalam bidangpendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dan-segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis".
Filsafat pendidikan bersandarkan pada filsafat formal atau filsafat umum. Dalam arti bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter filsafat. Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalah-masalah filsafat umum, seperti:
Hakikat kehidupan yang baik, karena pendidikan akan berusaha untuk mencapainya, Hakikat manusia, karena manusia mempakan makliluk yang menerima pendidikan; Hakikat masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses sosial; Hakikat realitas akhir, karena semua pengetahuan akan berusaha untuk mencapainya.
Selanjutnya Al-Syaibany (1979) berpandangan bahwa filsafat pendidikan, seperti halnya filsafat umum, berusaha mencari yang hak dan hakikat serta masalah yang berkaitan dengan proses pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha untuk mendalami konsep-konsep pendidikan dan memahami sebab-sebab yang hakiki dari masalah pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha juga membahas tentang segala yang mungkin mengaralikan proses pendidikan.
Pada bagian lain Al-Syaibany (1979) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang filsof pendidikan, diantaranya:
1) Merancang dengan bijak dan arif untuk menjadikan proses dan usaha-usaha pendidikan pada suatu bangsa;
2) Menyiapkan generasi muda dan warga negara umumnya agar beriman kepada Tulian dengan segala aspeknya,
3) Menunjukkan peranannva- dalam mengubah masyaiakat, dan mengubah cara-cara hidup mereka ke arah yang lebih baik;
Mendidik akhlak, perasaan seni dan keindahan pada masyarakat, dan menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran, dar cara-cara menesnai kfbpnarar tprepbnt Piie^f pendidikan harm memiliki pikiran yang benar, jelas, dan menyeluruh tentang wujud dan segala aspek yang berkaitan dengan ketuhanan, kemanusiaan, pengetahuan kealaman, dan pengetahuan sosial. Filsof pendidikan harus pula mampu mema¬hami nilai-nilai kemanusiaan yang terpancar pada nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan kebenaran.
Menurut Kneller (1971), filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam lapangan pendidikan. Seperti halnya filsafat, filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif, preskriptif, dan analitik.
Filsafat pendidikan dikatakan spekulatif karena berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat boleh buta terhadap filsafat dan filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakaii pendidikan. Pendidikan tidak dapat dirnengerti sepenuhnya tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Tujuan akhir pendidikan perlu dipahami dalam kerangka hubungannya dengan tujuan hidup tersebut, baik tujuan individu maupun tujuan kelompok. Gum sebagai pribadi, memiliki tujuan dan pandangan hidupnya. Guru sebagai warga masyarakat atau warga negara memiliki tujuan hidup bersama.
Hubungan filsafat dengan pendidikan dapat kita ketahui, bahwa filsafat akan menelaah suatu realitas dengan lebih luas, sesuai dengan ciri berpilar filsafat, yaitu radikaL sistematis, dan universal. Konsep tentang duma dan pandangan tentang tujuan hidup tersebut akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan.
Bmbacher (1950), seorang gum besar dalam filsafat pendi¬dikan, mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan pendi¬dikan dalam hal ini filsafat pendidikan: bahwa filsafat tidak hanya melahrrkan sains atau pengetahuan bam, melarnkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Bahkan John Dewey berpandangan bahwa filsafat mempakan teori umum bagi pendidikan.
Filsafat pendidikan hams dapat menjawab empat pertanyaan pendidikan secara menyelumh. yaitu
1) Apakah pendidikan itu ?
2) Mengapa manusia hams melaksanakan pendidikan ?
3) Apakah yang sehamsnya dicapai oleh pendidikan'?
4) Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun yang tersirat dapat dicapai?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di dtas akan sangat tergantung atau akan ditcntukan oleh pandangan hidup dan tujuan hidup manusia, baik secara individu maupun secara bersama (masyarakat). Filsafat pendidikan tidak terbatas pada fakta-fakta faktual, yang hanya dibatasi oleh pengalaman rnderawi, tetapi filsafat pendidikan hams sampai pada penyelesaian secara tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan kahidupan yang sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun kehidupan sosial yang baik dan sempurna.
PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat pendidikan hams mampu membenkan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan. Hal tersebut akan mewarnai perbuatan mereka secara anf dan bijak, menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dengan falsafah umum, falsafah bangsa dan negaranya. Pemahaman akan filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dan perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyele-saikan masalah-masalah pendidikan.
Dalam mengkaji peranan filsafat pendidikan, dapat ditinjau dan tiga lapangan filsafat, yaitu metafisika, epistemologi, dan aksiologi.
1. Metafisika dan Pendidikan
Metafisika mempakan bagian dari filsafat spekulatif. Yang menjadi pusat persoalannya adalah hakikat realitas akhir. Metafisika mencoba mencan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan benkut:
a) Apakah alam semesta memilild bentuk rasional ? Apakah alam semesta memiliki makna ?
b) Apakah yang dinamakan jiwa itu mempakan kenyataan dalam dinnya atau hanyalah suatu bentuk materi dalam gerak?
c) Apakah semua penlaku orgarusme, tennasuk manusia telah ditentukan ideterministik), atau memiliki kebebasan (indetermi-nislik)?
d) Siapakah manusia0 Dan mana asarnya0 Apa yang diharapkan dalam hidup ini? Apa yang akan dituju manusia? alam semesta ini tenadi densan sendirinya atau ada vans menciptakan ?
Dengan lahimya sains, banyak orang heranggapan bahwa metafisika mempakan barang kuno, Menumt mereka. penemuan ilmiah betul-betul dapat dipercaya karena dapat diukui, sebaUknya pemilaran metafisika tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan tidak memiliki aplikasi praktis.
Tetapi dewasa ini kita kenal bahwa metafisika dan sains mempakan dua kegiatan yang berbeda, memiliki nilai dan manfaat dalam lapangannya masrng-masrng Keduanya berusaha menyusun pertanyaan-pertanyaan umum. Tetapi, metafisika berkaitan dengan konsep-konsep yang kejadiannya tidak dapat diukur secara empiris, seperti pernyataan ."Allah adalah pencipta alam semesta", Tujuan akhir manusia adalah hidup bahagia dunia dan akhirat', dan sebagainya
Dalam hal ini tidak berarti bahwa metafisika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tulis Komentar Anda demi Perbaikan dan Kesempurnaan Blogs ini