25 September 2009

Filsafat Ilmu : "Manusia dan Ilmu"

MANUSIA DAN ILMU
Oleh : Sulaeman
Manusia dan hewan dikaruniai naluri rasa ingin tahu (basic instinc named the sense of curiosity). Rasa ingin tahu hewan terbatas untuk bertahan hidup (struggle for survival) sementara rasa ingin tahu manusia tidak pernah berhenti pada satu tingkatan, namun terus melaju menembus ambang-batas survival menuju tahapan cultural dan moral.
Contoh:
Hewan Manusia
Survival Memakan mangsanya Memakan mangsanya
Cultural - Memasak dan menyajikan
Moral - Berdoa sebelum/sesudah makan
Aristoteles menyebut perkembangan kemampuan makhluk hidup:
Anima vegetativa Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang biak
Anima sensitiva Kemampuan untuk peka terhadap rangsangan
Anima intellectiva Kemampuan untuk menghimpun persepsi-persepsi terhadap realitas dalam bentuk konsep-konsep abstrak
Tumbuh-tumbuhan hanya berkemampuan vegetatif, hewan berkemampuan vegetatif dan sensitif, sementara manusia merupakan makhluk yang memiliki ketiga kemampuan itu sekaligus.
1. Kemampuan untuk menghimpun persepsinya terhadap realitas
O. Jespersen dalam bukunya Language: Its Nature, Origin, and Development menyimpulkan bahwa kemampuan berbahasa menunjukkan kemampuan manusia yang luar biasa dalam menggolong-golongkan realitas; simpulnya: Man is classifying animal (manusia adalah makhluk yang berkemampuan menggolong-golongkan sesuai dengan kepentingannya (baik survival, moral maupun kultural), sementara hewan menggolong-golongkan realitas berdasarkan kepentingan survivalnya saja.
2. Kemampuan menggeneralisasikan realitas
Realitas tidak pernah "berbicara sendiri"; realitas "berbicara" setelah dipersepsikan oleh manusia; Realitas yang belum dipersepsikan disebut realitat an-sich.
3. Kemampuan untuk menciptakan dan berkomunikasi menggunakan konsep-konsep abstrak
Konsep adalah abstraksi tingkat pertama terhadap fakta atau realita.
Ketika anda menyebut "kursi," maka Anda sedang mengabstraksikan sesuatu benda tertentu yang Anda bedakan dengan "meja" atau "almari."
Generalisasi adalah abstraksi tingkat kedua terhadap fakta atau realita.
Ketika Anda menyebut "meubelair" atau "furniture," maka Anda memasukkan sekaligus "kursi" "meja "almari" "dipan" dan "yang segolongan dengan itu"

Manusia ingin mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu yang terjadi (situasi, kondisi, keadaan, sifat, karakter, ciri-ciri, peristiwa, kejadian) maupun apa saja yang ada (benda, hewan, tumbuhan, dll.) baik yang ada/terjadi di lingkungannya (environment) maupun yang ada/terjadi di dalam dirinya sendiri (peredaran darah, degup jantung, rasa senang, sedih, dll.)

Semua hal yang ingin diketahui manusia disebut REALITAS (reality - [plr] realities)
Hasilnya adalah Pengetahuan (Knowledge), dan setelah melalui 3 tahap tadi akan berubah menjadi ilmu (Science).
Realitas tunggal (single reality) disebut Fakta (fact) yang kebenarannya tidak perlu diperdebatkan lagi, misalnya "Tahun 1963 John F. Kennedy ditembak mati."
Realitas yang satu dirangkaikan dengan realitas lain menghasilkan Phenomenon (Fenomenon - [plr] fenomena)

Beberapa sifat realitas:
1. bersifat statik sekaligus dinamik
2. bersifat denotatif dan konotatif
3. bersifat realitas yang disepakati (agreement reality) dan realitas yang dialami (experiential reality).

Keterangan:
Realitas bersifat statik sekaligus dinamik berarti dalam setiap realitas diasumsikan terdapat hal-hal yang tetap (regular) dan hal-hal yang berubah-ubah. Ketegangan dalam memahami apa yang berubah dan apa yang tetap itu menjadikan manusia selalu ingin tahu tentang realitas.
Relitas bersifat denotatif, artinya realitas "harfiah" menyangkut simbol-simbol terhadap benda-benda konkrit atau peristiwa konkrit, sedangkan makna konotatif menyangkut simbolisasi terhadap peristiwa yang imagined (terbayang) atau "abstrak." Misalnya "kursi" sebagai tempat meletakkan pantat (duduk) dan "kursi" sebagai "kekuasaan." Contoh lain "kecelakaan" sebagai peristiwa tabrakan tak terduga, dan "kecelakaan" yang artinya "hamil di luar nikah."
Realitas bersifat disepakati, misalnya seorang anak diberitahu oleh orang tuanya bahwa cacing adalah binatang menjijikkan, maka persepsi sang anak terhadap hewan itu adalah hewan menjijikkan, sehingga dihindarinya, namun kalau sang anak mengalami sendiri makan masakan yang bahan utamanya daging cacing yang ternyata bergizi, lezat, dan bahkan menjadi makanan favoritnya, maka pengalamannya (experience) itu bertentangan dengan kesepakatannya semula dengan orang tuanya (agreement).

Ilmu (Sains) berusaha melakukan pendekatan untuk mempertemukan keduanya: baik agreement reality (hasil penalaran - logika) maupun experiential reality (hasil pengamatan - observasi). Maka, dua pilar fundamental ilmu pengetahuan adalah logika (logic) dan pengamatan (observation).

Ilmu yang dikembangkan manusia untuk mengetahui segala sesuatu disebut epistemologi (Yunani: episteme = pengetahuan) yakni science of knowing yang termasuk filsafat keilmuan, diderivasikan menjadi metodologi (Yunani: meta = selanjutnya; hodos = menemukan) yakni science of finding out atau ilmu mengenai cara menemukan pengetahuan.

Secara alamiah, manusia mengetahui segala sesuatu termasuk masa depannya melalui dua cara:
1. Kausal
2. Probabilistik

Kausal, yakni mengakui bahwa realitas saat ini disebabkan oleh realitas di masa lalu, dan realitas yang akan datang disebabkan oleh realitas saat ini. Tetapi hal itu tidak selalu berarti setiap realitas kini disebabkan oleh setiap realitas lalu dan setiap realitas masa depan disebabkan realitas kini, melainkan terdapat kemungkinan atau kecenderungan (probabilistik).

Cara-cara manusia memahami realitas:
1. trial and error
2. tradition and authority
3. speculation and argumentation
4. intuition
5. divine message (wahyu)
6. accidental
7. common-sense
8. hypothesis and experimentation

Trial and error adalah metode coba-coba. Misalnya ingin mengetahui buah mana yang beracun dan mana yang tidak beracun, langsung mencoba memakan buah itu. Tradition adalah semacam agreement reality, yakni menerima suatu pemahaman terhadap realitas karena sudah demikianlah pemahaman tradisi orang-orang tua atau "semua orang." Namun kadang pemahaman tradisi tanpa observasi maupun logika. Jadi sesuatu realitas dipahami secara given. Bedanya dengan authority, otoritas menyangkut kewenangan atau struktur kekuasaan. Siapa yang kewenangan atau kekuasaannya lebih tinggi dianggap lebih benar dalam menetapkan atau memahami sesuatu. Misalnya Gereja Katolik menetapkan doktrin "matahari mengelilingi bumi" maka orang yang percaya pada Ptolemeus bahwa sebenarnya bumilah yang mengelilingi matahari dipaksa meninggalkan kepercayaannya itu atau ditangkap lalu dibunuh (inkuisisi - inquisition).
Speculation and argumentation adalah cara menemukan kebenaran dengan logika dan argumentasi nalar tanpa mengajukan bukti-bukti hasil pengamatan/observasi. Kisah perdebatan antara Lamarck dan Darwin mengenai "mengapa leher jerapah panjang" merupakan kisah klasik spekulasi dan argumentasi.
Hypothesis merupakan cara penalaran berdasarkan metode deduksi. Hipotesis merupakan turunan dari sebuah kerangka berpikir yang besar dan rumit (teori) yang menghasilkan hubungan sederhana yang hendak dibuktikan dengan observasi atau verifikasi (pengujian hipotesis), sedangkan experimentation merupakan salah satu metode induktif yang menghasilkan pola-pola realitas atau pola-pola hubungan antarrealitas dalam rangka menuju penyimpulan kecenderungan (tentative conclusion).
Jadi metode berpikir yang ilmiah adalah deduktif dan induktif:

Tahap DEDUKTIF INDUKTIF
1 Hipotesis Observasi
2 Observasi Menemukan Pola
3 Hipotesis diterima atau ditolak? Konklusi tentatif

Jika pemahaman terhadap realitas tidak dilakukan secara ilmiah akan mengakibatkan kesalahan (errors) dalam pengamatan. Ada sembilan kesalahan pengamatan:
No Nama Kesalahan Arti Contoh/Keterangan
1 Inaccurate Observation Pengamatan yang tidak akurat Indonesia dijajah Belanda; Seorang turis Jepang di Prancis diolok-olok oleh orang Inggris yang sedang piknik ke Prancis, lalu si Jepang menyimpulkan bahwa orang Prancis kasar-kasar.
2 Overgeneralization Terlampau menggeneralisir Nusantara dijajah Belanda selama 350 tahun; Wartawan hanya menanyai 3 di antara 3000-an peserta demonstrasi, ketiganya mengatakan bahwa mereka demo karena diupah, lalu sang wartawan menyimpulkan bahwa sebagian besar demonstran cuma upahan
3 Selective Observation Memilih-milih obyek yang diamati Karena yakin kalau bangsa Melayu semua malas, maka ketika meneliti pengusaha sukses hanya mengamati pengusaha Cina, tanpa memandang adanya pengusaha Melayu yang rajin dan pengusaha Cina yang malas.
4 Deduced Information Menyembunyikan informasi yang tak cocok dengan keyakinannya Karena yakin bahwa wanita it emosional, lemah, manja, dan tergantung, ketika melihat wanita yang rasional, kuat, dan mandiri, disimpulkannya orang itu tidak benar-benar wanita tapi "tomboy" atau cuma pura-pura.
5 Illogical Reasoning Penalaran yang tidak logis Penjudi yang percaya bahwa kali ini ia akan menang kalau sebelum berjudi dia keliling meja judi empat kali.
6 Ego-involvement in Understanding Melibatkan ego si peneliti dalam memahami realitas Dua orang peneliti yang satu dari keluarga kaya yang satu dari keluarga miskin, ketika mewawancarai seorang keluerga menengah, yang pertama menyimpulkan bahwa responden orang miskin, yang kedua menyimpulkan bahwa responden orang kaya
7 Premature Closure of Inquiry Penyimpulan prematur sebelum selesai proses riset Akibat banjir, pemerintah menghentikan pembangunan, lalu disimpulkan bahwa akan terjadi pengangguran besar-besaran pekerja bangunan (padahal yang dihentikan hanya pembangunan gedung baru).
8 The Mystification of Residuals Menyimpulkan dari hal yang belum diteliti Data terkumpul menunjukkan 60% penduduk suka kacang garing, lalu disimpulkan bahwa acara TV kegemaran pemakan kacang garing adalah sepakbola, sebab makan kacang garing asyik sambil nonton bola
9 To Err is Human Kesalahan itu manusiawi Dalam penelitian tidak boleh salah kecuali kesalahan yang disadari atau terukur yang disebut penyimpangan baku atau bias terukur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tulis Komentar Anda demi Perbaikan dan Kesempurnaan Blogs ini